Sekelebat, dibulan purnama januari, Lintang pergi menuju masa lalu, menggunakan teleportasi yang ada didalam hati dan fikirannya. Dipaha ibundanya yang empuk ia menerawang, ketika –setahun yang lalu–, novel, essay dan kumpulan cerpen perdananya menjadi best seller. di lembut, usapan jemari ibundanya, ia teringat –ketika usianya beranjak kepala dua—seorang wartawan koran nasional menuliskan kekaguman pada pemikiran orisinilnya yang dikemas menggunakan bahasa yang menggerakkan fikiran dan rasa. Menjelang novel susulan yang akan diterbitkan, lintang diganggu oleh bayang-bayang dosa yang menghantui dirinya. Setahun lalu, ia menganggap, tak ada orang lain yang ada dibelakang layar prestasinya. Semuanya, merupakan hasil dari pengasahan disiplin dan intelektualnya. Sepenuhnya, merupakan hasil dari kaidah kausalitas yang dijalaninya. Baca entri selengkapnya »
Ditulis oleh muhamadfikri