Kesuksesan adalah harapan semua orang, siapapun dan apapun yang mereka kerjakan. Namun, untuk mendapatkan kesuksesan ada ‘harga yang harus dikeluarkan’. “No free lunch” kata kaum kapitalis. Hanya saja, berharap sukses tanpa bekerja adalah mimpi di siang hari bolong.
Setiap pekerjaan dan aktifitas manusia mestilah memiliki tujuan dan target tertentu. Agar tujuan dan target tersebut bisa tercapai maka gambaran tentang tujuan dan target serta urutan pekerjaan juga harus jelas.
Untuk membangun sebuah rumah, misalnya, tentu harus jelas dan pasti bahan-bahan apa yang mesti dipersiapkan, merancang bangunannya dan tentu saja mengerjakannya. Tanpa semua ini maka tujuan membangun rumah tidak akan pernah terwujud.
Bagaimana dengan berkeluarga? Menikah dan memiliki anak? Bagi sebagian kalangan menikah membentuk keluarga begitu menakutkan, sehingga mereka memilih untuk tidak menikah. Sebagiannya lagi merasa tidak ada salahnya mencoba. Pada akhirnya, bahtera keluarga diarungi di atas hukum eksperimen trial and error yang berujung dengan rasa putus asa karena kandas di tengah jalan. Wabah takut menikah ini benar-benar telah menjadi gejala. Celakanya, rangsangan seksual terus membombardir. Nggak di tv, bioskop, magazine, tabloid, hingga live show, tampilan menggoda ala ‘anak RT’ (angkat rok tinggi-tinggi), berpakaian ala’kadar’ (buka dada lebar-lebar)- nya makin mengundang selera. Di sisi lain, beban menghadapi keluarga kian berat seolah tak terpikul. Tanpa kekuatan iman yang melandasi misi hidup, makin semaraklah gaul bebas berwujud free love dan free sex berbalut ‘cinta sejati’. Bahkan ini dianggap sebagai jalan keluar terbaik oleh para pemuja kenikmatan seksual. Mendapat layanan demi penuhi selera memuaskan gairah, tanpa harus susah payah memberi nafkah. Endingnya, meniadakan peran pencipta manusia sebagai pengatur kehidupan. Sterilisasi dunia dari peran Tuhan!
Mengapa semua ini terjadi? Penyebabnya ternyata berasal dari 2 sumber.
Pertama, salah pandang terhadap hidup. Menikah bisa jadi tidak perlu bagi seseorang yang memandang bahwa hidup ini just having fun. Bagi mereka, menikah berarti mengikat diri ke dalam komitmen tertentu. Akibatnya, dia dituntut untuk memenuhi tanggung jawab tertentu. Suami memiliki tanggung jawab terhadap istrinya akibat ikatan nikah. Demikian pula istri terhadap suami. Belum lagi berkaitan dengan anak-anak akibat dari pernikahan. Bagi mereka menikah hanya cari masalah.
Padahal hidup ini terlalu berharga jika hanya diisi dengan mencari kesenangan. Bukankah manusia memang berbeda dengan hewan? Allah SWT berfirman:
“Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.”
Menurut ayat di atas, manusia diberi kemampuan untuk memahami kekuasaan dan perintah Allah. Allah SWT menciptakan manusia berbeda dengan binatang. Walaupun manusia makan, minum, kawin dan bermain-main sebagaimana hewan, namun berbeda tujuannya. Pada hewan hanya sekedar untuk bertahan hidup. Yang penting saat hewan mati sudah ada generasi penerusnya. Bagi manusia ada nilai pahala dan dosa, ada pertanggung jawaban terhadap segala amalnya apakah cocok dengan aturan Allah atau tidak. Kalau hewan mati dan tidak menghasilkan keturunan, bisa dianggap misi hidupnya tidak tercapai. Namun, tatkala manusia mati dan belum beranak-pinak maka bukan berarti misi hidupnya gagal. Penentu gagal tidaknya misi hidup manusia ditentukan oleh sejauh mana dia mentaati Allah, dan berjuang untuk menegakkan agama Allah.
Kedua, salah paham terhadap tujuan menikah.Seseorang yang menganggap menikah sebagai jalan pemenuhan terhadap berbagai kebutuhan akan melihat menikah dari faktor untung rugi. Kalau ada jalan lain yang menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan yang lebih menguntungkan tanpa menikah maka dia tidak akan menikah. Kalau kebutuhan seks dapat dipenuhi dengan kumpul kebo mengapa mesti menikah? Asal suka sama suka dan saling menghormati kan tak ada masalah. Jika kebutuhan terhadap uang sudah terpenuhi buat apa punya suami? Bukankah suami adalah pencetak uang saja? Jika anak bisa diperoleh dengan adopsi, buat apa menikah? Dan seterusnya.
Pendek kata, jika kebutuhan bisa terpenuhi tanpa bertanggung jawab mengapa mesti menikah. Hanya mempersulit hidup saja.
Tapi kawan, menikah bukan semata karena manusia butuh seks, menikah juga bukan karena wanita butuh nafkah. Menikah juga bukan hanya karena laki-laki butuh tempat berlabuh. Menikah juga bukan sekedar karena wanita butuh perlindungan. Menikah juga bukan hanya karena anak, hingga jika salah satu atau semua kebutuhan ini telah terpenuhi manusia tidak perlu menikah.
Menikah adalah perintah Allah Swt. Menikah jika dilaksanakan sesuai aturan Allah akan berimplikasi diperolehnya satu paket keuntungan bagi manusia yaitu mendapatkan ridhonya (keuntungan terbesar), hingga beroleh ampunan dan surga, ketentraman dan keuntungan berupa anak-anak.
Kebutuhan manusia mana yang lebih besar selain kebutuhan atas ridhonya? Jika manusia tidak menikah maka kesempatan ini hilang. Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan memiliki kebutuhan dan ketertarikan satu sama lain. Bukan hanya kebutuhan seks tapi juga kasih sayang, kepercayaan, loyalitas, persahabatan, dan sebagainya, maka suami akan tentram bersama istrinya, demikian sebaliknya. Hal ini tidak akan tercapai kecuali dengan pernikahan. Kumpul kebo jelas tidak akan menghasilkan ketentraman. Selain itu, manusia juga diberi Allah naluri cinta kepada anak-anak. Seorang perempuan bisa saja mengadopsi anak tapi nalurinya tetap akan menuntut ada anak yang lahir dari rahimnya. Itu hanya bisa dipenuhi melalui pernikahan.
BTW, ketakutan untuk menikah hanya bisa diperbaiki dengan memperbaiki akidah seseorang, yaitu dengan memperbaiki salah pandang ini. Akidahlah yang akan menentukan cara pandang terhadap kehidupan dengan seluruh perangkat nilainya. Termasuk tentang tujuan hidup, tolak ukur bahagia dan estándar yang dipakai untuk beraktivitas, ok!!! Kesungguhan dalam mempersembahkan yang terbaik bagi Allah dan Rasul-Nya, bukanlah hal mudah bersamaan dengan deraan kesulitan hidup yang tidak kunjung reda.
Sekali lagi, ketakutan untuk menikah adalah cerminan kekerdilan jiwa. Karena kita hanya berharap menerima dan takut memberi atau karena kita siap bertanggung jawab lantaran tidak pernah dididik untuk bertanggung jawab