Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah pakaian-Ku. Barangsiapa yang melepas salah satu dari keduanya maka Aku akan melemparkannya kedalam neraka Jahannam. (HR. Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)

 

Perangai-perangai itu telah secara spesifik merampas dengan berani otoritas Allah SWT. Allah berfirman dalam hadits Qudsi, “ Kebesaran itu sarung-Ku, kesombongan itu selendangku, maka barang siapa merebutnya dari-Ku niscaya akan aku siksa.

Dalam konteks dan bentuk apapun setiap kita , harus menyadari bahwa menjadi sombong dan berlaku zhalim adalah tindakan yang sangat salah. Sekecil dan sebesar apapun. kita mungkin tidak hidup dijaman primitif seperti ketika fir’aun mengaku tuhan dengan segala argumentasi bodohnya. Kita mungkin tidak hidup dijaman batu, dimana banyak manusia tak juga mengerti akan otoritas ketuhanan Allah. Tetapi disini, saat ini, justru kita hidup dijaman dimana orang-orang dengan ilmu dan peradabannyayang baru, justru menemukan bentuk-bentuk baru dari perampasan otoritas ketuhanan itu. Ada bentuk-bentuk baru dalam cara manusia ‘melepas dan merampas selendang Allah’. Begitu banyak manusia yang merasa dirinya seperti Tuhan, mungkin ia tidak mendeklarasikan dirinya Tuhan seperti itu tapi perbuatan dan tingkahnya membuat Allah SWT marah dan murka. Awalnya adalah kesombongan, sesudah itu kezhaliman. Kezhaliman yang dilakukan karena kesombongan, lebih menyakitkan akibatnya daripada kezhaliman yang disebabkan karena kebodohan.

Tapi menarikgaris semua itu untuk sebuah pelajaran bagi individu-individu, adalah langkah awal yang kita lakukan. sebab, pada ruang yang sangat pribadi, dimana tak ada orang lain yang mengintip perangai kita, kesombongan dan kezhaliman sering kali lebih kejam dan lebih menukik. sebab tiba-tiba kita bisa merasa berkuasa atas diri kita. atas nama hak asasi, aturan hidup adalah ‘pilihan saya sendiri’. Jalan hidup adalah ‘kemerdekaan mutlak saya’ tidak ada yang berhak mengatur , apalagi membatasi, bahkan tidak juga Allah SWT. Setiap kita adalah penguasa, pada wilayah social terkecil dan terbesar kita. maka disanalah peluang untuk merampas selendang Allah bisa terjadi. Merampas selendang Allah, itulah pusaran dari segala bentuk kesombongan. sesuatu yang mungkin dianggap sangat sederhana oleh banyak pihak, padahal sesungguhnya ini masalah yang sangat besar. Ia masalah besar, pertama kali, justru karena kesombongan merupakan inspirator utama yang melahirkan begitu banyak perbuatan nista. awalnya menerima nasehat dengan angkuh dan puncaknya adalah kesombongan iblis , yang enggan bersujud menuruti perintah Allah.

Kita Ini Hanya Manusia

Kembali, kita dihadapkan pada masalah penting manusia. Manusia yang terbatas ini merasa dirinya sekuasa tuhan. sehingga dia berbuat semaunya bak tuhan. sehingga dia menghukumi semaunya seperti layaknya Tuhan menghukumi.menilai sesuatu layaknya Tuhan menilai. mengatakan lebih mulia/hina seseorang dari orang lainnya hanya dengan sebatas melihat ukuran luarnya. Kesombongan memiliki sejarah panjang sendiri. Kesewenang-wenangan dan kesemena-menaan berdiri kokoh sepanjang manusia macam fir’aun masih ada. Inilah Perlindungan diri agar tidak menjadi Fir’aun abad ini dalam dimensi apapun dari kehidupan kita hari ini.

1. Lihatlah Orang-orang dulu takut berbuat Zhalim, bagaimana kita?

Aku dilarang tuhanku berbuat Kezhaliman,” begitu takutnya Nabi terhadap dosa yang satu ini. walaupun ketika itu beliau sedang behadapan dengan Yahudi, yang dengan kasarnya meminta bebeapa dinar yang pernah dipinjamkan kepada beliau.

Contoh agung dari Rasulullah merupakan sejarah manusia yang paling mengkilap. Kilapnya menembus berbagai lorong jaman. Jiwa mulia untuk tidak mengebiri hak orang lain, tidak angkuh, tidak semaunya begitu terasa dari ungkapan ringan Nabi diatas. Begitu takutnya beliau kepada pengadilan Allah yang kezhaliman sekecil apapun pasti harus dibayar.

Amal kitalah yang akan menjadi taruhannya. Untuk membayar semua keangkuhan kita. Amal kita akan terus dikurangi untuk menebus kesemena-menaan kita kepada orang lain yang belum termaafkan didunia. Akhirnya, benar-benar kita akan menjadi orang termiskin yang sebenarnya. karena amal kita yang menggunung itu bisa ludes tidak setitik debu pun membekas, habis oleh ulah kita sendiri. Untuk itulah Rasulullah berpesan “ berbuat zuhudlah terhadap apa yang ada ditangan manusia, kamu pasti akan dicintai oleh manusia.”

2. Sekali waktu lihatlah orag dibawahmu.

Pandangan mata kita menjadi awal keputusan hati. Mata yang selalu memandang keatas, menyebabkan hati selalu menghadap keatas. Rasa tidak puas, tidak pernah syukur, sulit untuk menemukan kata ridho dsb. Begitulah sebaliknya, mata yang selalu memandang kebawah, menyebabkan hati lebih lembut. lebih pandai bersyukur dan ridho dengan pembagian Allah.

Arahkan pandangan mata ini kepada mereka yang ternyata banyak dibawah kita, kepada mereka yang tidak seberuntung kita, mungkin ekonominya lebih rendah dari kita, pendidikian mereka lebih rendah dari kita, kecerdasan mereka dibawah kita, fisik ketampanan ato kecantikan mereka dibawah kita,nasib mereka tidak sebaik kita, kesempatan mereka tidak sebesar kesempatan kita, pilihan mereka lebih kecil adri pada kita ato bahkan ada yang gak punya pilihan sama sekali. “ Lihatlah Orang yang berada dibawahmu dan jangan melihat orang yang ada diatasmu. itu akan membuatmu tidak mudah meremehkan nikmat Allah.”

Melihat kebawah membuat kita mudah syukur. sekaligus membuat hati kita tergugah untuk menumpahkan air mata simpati. (itulah harusnya kita bersimpati, kepada orang dibawah kita, bukan orang diatas kita). Mengulurkan tangan kita untuk mereka yang dibawah. melihat mereka, bisa melembutkan hati. meruntuhka monument keangkuhan. dan sebaliknya, selalu melihat keatas, memelihara virus kekasaran hati. mengokohkan keangkuhan dan menjadi buas memakan orang tak mampu agar dia bisa mendapatkan orang yang diatasnya.

3. Lunasilah Hutang kezhalimanmu didunia.

Kezhaliman adalah hutang. kalau tidak dibayar didunia, akan ditagih diakhirat. jika pernah ada yang dizhalimi haknya, disinilah kita pernah membayar. sebelum dia menagih-nya kelak dihari yang tidak ada apapun untuk membayar. Mengembalikan hak orang lain itu harus. Taubat tidak diterima sebelum mengembalikan hak orang lain yang pernah kita rampas. Wallahu’alam bishowab