oleh : Abdurrahman Muhammad Khalid
Judul Kitab : Soal Jawab seputar Gerakan

Jumlah kaum Muslimin saat ini di seluruh dunia lebih kurang satu seperempat miliar. Sedangkan Syariat Islam adalah aturan hidup yang paling baik dan sempurna. Sebab, ia berasal dari Allah SWT. Tetapi, mengapa sampai saat ini belum ada daulah (pemerintahan) bagi kaum Muslimin yang dapat menerapkan Syariat Islam?

Memang benar bahwa Syariat Islam adalah aturan hidup yang paling baik dan agung. Ia merupakan sistem yang paling sesuai dan paling layak diterapkan, bukan hanya untuk kaum Muslimin, tetapi bagi seluruh umat manusia. Sebab, Rasulullah saw adalah rahmat yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada seluruh umat manusia. Allah SWT berfirman:

“(Dan) Tidaklah Kami utus engkau (Muhammad), melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam” (Al Anbiya’ 107).

Sistem yang dibuat manusia, walaupun dianggap tinggi nilainya dan yang membuatnya adalah akal yang jenius, namun tidaklah mungkin sistem buatan tersebut mampu menandingi sistem yang berasal dari Al Khaliq (Allah SWT). Sebab, hanya Dia yang mengetahui apa-apa yang bermanfaat dan yang berbahaya (membawa kemudlaratan) bagi setiap manusia. Dia pulalah yang mengetahui keadaan setiap masa (zaman) dan tempat.

Kaum Muslimin saat ini berjumlah sekitar satu seperempat miliar jiwa. Namun demikian, perbaikan nasib, kondisi dan situasi mereka tidak dapat ditentukan dari jumlah manusianya. Menanggapi jumlah ini, kita akan teringat kepada Hadits Rasulullah saw yang berbunyi:

“Akan datang suatu masa, dalam waktu dekat, ketika bangsa-bangsa (musuh-musuh Islam) bersatu-padu mengalahkan (memperebutkan) kalian. Mereka seperti gerombolan orang rakus yang berkerumun untuk berebut hidangan makanan yang ada di sekitar mereka”.

Salah seorang Shahabat bertanya: ‘Apakah karena kami (kaum Muslimin) ketika itu sedikit?‘ Rasulullah saw menjawab:

“Tidak! Bahkan kalian waktu itu sangat banyak jumlahnya. Tetapi kalian bagaikan buih di atas lautan (yang terombang-ambing). (Ketika itu) Allah telah mencabut rasa takut kepadamu dari hati musuh-musuh kalian, dan Allah telah menancapkan di dalam hati kalian ‘wahan'”.

Seorang Shahabat bertanya: ‘Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan wahan itu?’ Dijawab oleh Rasulullah saw:

“Cinta kepada dunia dan takut (benci) kepada mati”.1)

Hadits ini amat tepat untuk menggambarkan situasi dan kondisi kaum Muslimin saat ini. Sesungguhnya, penyakit yang diderita oleh kaum Muslimin sekarang ini ada dua macam. Pertama, cinta dunia. Kedua, takut mati. Untuk mengobati agar sembuh dari penyakit tersebut, maka hendaklah kaum Muslimin mau merujuk kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul, sesuai dengan yang tertera dalam firman Allah SWT yang berbunyi:

“Maka, siapa saja yang mengikuti petunjukKu, ia tidak tersesat dan tidak celaka. Dan siapa saja yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya (akan menghadapi) penghidupan yang sempit” (Thaha: 123-124).

——————-

1) At Tarikh Al Kabir, Imam Bukhari; Tartib Musnad Imam Ahmad XXIV/31-32; “Sunan Abu Daud, hadits No. 4279.

Juga sabda Rasulullah saw:

“Telah kutinggalkan kepada kalian dua perkara yang bila kalian berpegang-teguh kepada keduanya, maka kalian tidak tersesat untuk selama-lamanya: (ia adalah) Kitabullah dan Sunah RasulNya”.2)

Mengikuti Kitabullah dan Sunah Rasul bukan hanya sekadar melakukan ibadah mahdlah (ritual) belaka, tetapi tidak lain adalah melaksanakan Islam secara kaffah (totalitas), dimulai dari aqidah sampai kepada masalah hukum yang paling kecil sekalipun.

Memang, untuk sampai ke arah sana, kita perlu menyampaikan da’wah Islam kepada kaum Muslimin agar mereka dapat memahami Islam secara murni. Sebab, munculnya keadaan buruk yang menimpa kaum Muslimin saat ini adalah akibat kelalaian kita sendiri dan usaha-usaha dari musuh-musuh Islam yang berhasil memutarbalikkan serta memanipulasi sebagian besar ide dan persepsi Islam. Musuh-musuh Islam itu telah sengaja mengaburkan berbagai pemikiran umat yang semua itu bertujuan untuk menyesatkan.

Saat ini kita melihat bahwa kaum Muslimin masih melanjutkan era kebangkitannya dan kembali kepada kesadarannya. Namun semua itu membutuhkan usaha dan kerjasama seluruh kaum Muslimin yang dimulai dari kalangan orang-orang yang telah sadar akan pentingnya kebangkitan Islam untuk memimpin dan mengajak umat ini ke pantai tujuannya. Mereka perlu diselamatkan/dilepaskan dari cengkeraman kekuasaan negara-negara kafir Barat maupun Rusia yang bersatu-padu mengeroyok umat Islam bagaikan orang-orang lapar yang berebut hidangan.

Bagi kaum Muslimin, khususnya para ulama dan intelektual Muslim yang telah menyadari kondisi zaman ini, hendaklah mereka memfokuskan kegiatannya bukan hanya dengan berusaha mewujudkan kesadaran yang benar terhadap Islam, tetapi juga berusaha menegakkan Daulah Islamiyah dan mengembalikan Khilafah Ar Rasyidah ‘Ala Minhajin An Nubuwwah; yang mengikuti jejak kenabian dengan menerapkan hukum-hukum Allah SWT di tengah-tengah masyarakat, serta bersama khilafah Islam mengembangkan Risalah Islam ke seluruh dunia dengan cara da’wah dan jihad; seperti yang terjadi periode awal Islam dahulu, saat umat Islam masih memiliki negara.

——————-

2) Lihat Al Fathul Kabir II /27; Al Muwatha’ II /899; dan Jami’ul Bayan Al Ilmi II /221].

Usaha tersebut, bagi umat merupakan suatu kewajiban yang tidak boleh diabaikan lagi. Kalau dahulu pada permulaan abad ke XX ini kaum kafir (negara-negara Eropa) telah menghancurkan negara dan sistem pemerintahan Islam, tanpa ada satu reaksipun dari umat, maka harapan kita sekarang adalah bahwa umat ini dapat kembali mengembalikan kekuasaan negara Islam di bumi ini, sesuai dengan janji Rasulallah saw kepada umat ini:

“… Kemudian akan muncul [kembali] masa kekhalifahan yang mengikuti jejak kenabian…”.3)

Kembalinya daulah Islam ke tengah masyarakat dunia internasional masih dan akan tetap dihalangi oleh negara-negara adidaya melalui antek-antek mereka (para penguasa kaum Muslimin). Oleh karena mereka bersatu padu dalam makar dan tipu daya ini, maka hendaklah seluruh umat melalui gerakan-gerakan Islam di seluruh dunia bersatu padu, baik dari segi langkah/gerak maupun strategi untuk menegakkan kembali pemerintahan Islam; tetapi hanya dengan cara da’wah dan politik, bukan dengan cara memberontak/menggunakan kekuatan fisik. Sebab, yang diinginkan oleh para penguasa adalah menghancurkan semua gerakan Islam yang di tempuh dengan membangkitkan emosi melalui langkah-langkah kekuatan fisik (dengan cara mengangkat senjata) yang dilakukan beberapa harakah Islam, di samping langkah tidak sesuai dan malah bertentangan dengan metode da’wah Rasulullah saw.

——————-

3) Lihat Al Fathul Kabir III; Musnad Imam Ahmad IV/273; Musnad Abu Daud Ath Thayalisi hadits No. 438; dan Majma’u Az Zawaid V/189.