Biaya pendidikan mahal! demikian kalimat yang terlontar dari sebagian besar masyarakat miskin di Indonesia yang tidak memiliki pilihan lain kecuali mereka tidak bersekolah. Padahal pendidikan merupakan sebuah kebutuhan. Sama halnya dengan kebutuhan akan sandang, pangan dan papan. Bahkan institusi terkecil seperti keluarga, pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang utama.

Pendidikan di negeri ini sangat jauh dari yang diharapkan. Diakui atau tidak, system pendidikan yang berjalan di Indonesia adalah system pendidikan materialistic. Ada yang mangatakan “Tidak ada uang, pendidikan tidak jalan”. Lalu apakah negara telah melupakan tugas pentingnya dalam memenuhi kebutuhan pendidikan warganya? Padahal pemerintah sendiri telah mengetahui bahwa sumber daya manusia yang bermutu merupakan prasyarat dasar bagi terbentuknya peradaban yang baik. Sebaliknya, sumber daya manusia yang buruk secara pasti akan melahirkan masyarakat yang buruk pula. Maka jelas kondisi pendidikan di Indonesia yang buruk ini mengakibatkan negeri ini jauh tertinggal dengan negara-negara lain.

Berbagai upaya dalam pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah sampai saat ini belum membuahkan hasil yang berarti. Bahkan sistem pendidikan saat ini malah semakin parah ketika pemerintah secara mudah melemparkan tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang berdampak pada melambungnya biaya pendidikan di Indonesia. Sehingga pengubahan status kepemilikan negara menjadi kepemilikan golongan/ pribadi ini akan semakin memperlemah peran negara dalam sektor pelayanan publik.

Oleh karena itu, penyelesaian problem pendidikan yang mendasar tentu harus dilakukan secara fundamental. Itu hanya dapat diwujudkan dengan melakukan perbaikan menyeluruh yang diawali dengan perubahan paradigma pendidikan materialistik menjadi paradigma pendidikan Islam.

Sistem pendidikan Islam didasarkan pada sebuah kesadaran bahwa setiap muslim wajib untuk menuntut ilmu dan tidak boleh mengabaikannya. Rasulullah Saw telah bersabda :

menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim(HR. Ibnu Adi dan Baihaqi)

Rasul Saw juga bersabda :

Diantara tanda-tanda hari kiamat adalah menghilangnya ilmu dan menyebarnya kebodohan …” (HR. Al-Bukhori, Muslim, dan Ahmad)

Allah Swt mewajibkan setiap muslim untuk menuntut ilmu. Atas dasar inilah negara wajib menyediakan pendidikan bebas biaya kepada warga negaranya baik muslim maupun non-muslim. Negara bersungguh-sungguh berupaya untuk memperoleh pendapatan negara seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat. Rasulullah telah menetapkan tebusan tawanan perang Badar berupa keharusan mengajar 10 anak kaum muslimin. Selain itu terdapat ijma sahabat tentang pemberian gaji kepada para guru yang dananya diambil dari kas negara (Baitul Mal). Wadhiyah bin Atha menuturkan riwayat : “Di Madinah terdapat 3 orang guru yang mengajar anak-anak, khalifah Umar memberikan nafkah kepada tiap-tiap mereka 15 dinar setiap bulannya”.

Para khalifah sepanjang masa sejarah Negara Islam juga memberikan pendidikan secara bebas kepada warga negaranya. Hal ini menunjukan bahwa pembiayaan pendidikan adalah tanggung jawab negara. Uang yang dikeluarkan negara Islam dari kas negara tidak untuk menggaji para guru setiap bulannya, tetapi cukup untuk membiayai sarana fisik sekolah, sarana proses belajar dan sarana-sarana penunjang lainnya seperti asrama pelajar, kantor, sarana administrasi dan sebagainya. Rakyat bisa saja menyediakan sarana itu tetapi hanya bersifat amal jariyah saja dan tidak mengambil alih tanggung jawab negara.

Wahai kaum muslimin, jika sejarah Islam telah membuktikan hal itu, mengapa kita tidak mau untuk beralih dari sistem yang sekuler-materialistik ini menuju sistem Islam? Coba pikirkan !

 

Pustaka : Al-Wa’ie no.57 tahun V, 1-31 juli 2005