oleh : Muhamad Fikri

Berjuang, Bekerja, atau aktifitas dalam bidang apapun, wajib memerlukan keikhlasan. Karena hanya orang-orang yang ikhlaslah yang akan ditolong Allah swt. begitu pula salah satu syarat diterimanya sebuah amal adalah ikhlas. sehingga, dengan ketidak ada anya ikhlas dalam setiap amalan kita, bisa dipastikan amal kita akan sia-sia. Ikhlas merupakan amal hati. Sehingga tidak bisa diketahui kecuali oleh dirinya sendiri dan Allah. Bahkan dirinya sendiri juga perlu meneliti lebih dalam lagi pada hatinya, apakah ia melakukan sebuah aktifitas atau amal tersebut benar-benar ikhlas, atau masih terkotori dengan niat-niat serta tujuan lain yang lain. karena Ikhlas adalah melakukan segala aktifitas dengan satu tujuan, yaitu semata-mata Karena Allah SWT, bukan tujuan lain atau duniawi.

dari Abu Umamah al Bahili, Rasulullah Saw bersabda :

إنّ اللّه لايقبل إلاّ ما كان له خالصا، وبتغي به وجهه.

Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali amal yang dlaksanakan dengan ikhlas dan dilakukan karena mengharap ridha Allah semata. (HR. an-Nasai,dan Abu Dawud)

 

Pribadi-pribadi yang ikhlas dan mengharap Ridhonya

Untuk mendapatkan gambaran lebih mendalam tentang perjuangan yang ikhlas, akan dibahas sekelumit tentang sahabat-sahabat Rasulullah. dari sini diharapkan ada hal-hal yang dapat diteladani dari pola hidup mereka dalam beramal.

 

Khalid bin walid

Dia adalah seorang penunggang dan penjinak kuda yang cekatan dari suku Quraisy. Sebelum masuk islam, dia adalah salah satu pemimpin pasukan Quraisy yang memporak-porandakan pasukan kaum muslimin diperang uhud. Tetapi, ketika dia masuk Islam, dia pun menjadi pemimpin pasukan Islam yang tak terkalahkan.

Prestasinya mulai nampak ketika memimpin pasukan pada perang muktah. Ketika itu ia menggantikan tiga panglima perang yang berturut-turut gugur sebagai syahid. Dengan setrateginya yang jitu, ia berhasil memenangkan pertempuran. dan sejak itu, ia mendapat gelar Saifullah (pedang Allah).

Khalid sangat menyenangi Jihad, seperti yang diungkapkan dari perkataannya : “Tak ada yang dapat menandingi kegembiraanku, bahkan lebih gembira dari saat malam pengantin, atau disaat dikaruniai bayi, yaitu suatu malam yang sangat genting, dimana aku dengan ekspedisi tentara bersama orang-orang muhajirin menggempur kaum musyrikin diwaktu shubuh…!

khalid bin walid juga orang yang sangat agung pribadinya. Dalam berkecamuknya perang Yarmuk, perang besar antara Islam dan Romawi, tiba-tiba datang utusan membawa suratdari khalifah yang baru, Umar bin khathab. Surat itu berisi keputusan pemberhentian khalid dari pimpinan pasukan dan memngangakat Abu ubaidah bin Jarrah sebagai gantinya. Khalid menerima keputusan itu dengan tenang, meskipun kendali pasukan masih berada ditangannya. Ketika ada pihak yang mempertanyakan sikapnya, dengan lantang ia menyampaikan bahwa ia berperang bukan demi Umar, tetapi demi Tuhannya Umar. dan iapun kembali berjihad dengan ikhlas, meskipun –ibaratnya- ia tidak lagi sebagai Jendral tetapi telah turun jadi kopral.

Keikhlasan juga banyak ditunjukkan sahabat-sahabat yang lain seperti Abu Bakar ash-Shiddiq yang menginfakkan seluruh hartanya ketika Allah dan Rasul-Nya meminta sebagian—hanya sebagian—hartanya untuk keperluan jihad fi sabilillah. Itulah juga yang ditunjukkan oleh Utsman bin Affan ketika ia mendanai—dari kantong pribadinya—10.000 pasukan Perang Tabuk dengan membelikan masing-masing kendaraan, perbekalan, dan senjata lengkap. Itulah pula yang ditunjukkan oleh Mushab bin Umair—seorang pemuda tampan, kaya, terhormat, dan menjadi idola gadis-gadis Qurays—ketika ia memberikan semua yang dimilikinya itu untuk dakwah Islam, sementara ia sendiri dalam kesehariannya, selama hidupnya, rela hanya memakai pakaian dengan banyak tambalan; bahkan tak punya cukup kain kafan saat ia wafat.

Maka kunci yang paling mendasar adalah bagaimana seorang muslim menata niat dan lintasan hatinya dengan benar. Bahwa apa saja yang dia lakukan harus dipersembahkan untuk Allah semata, saat baru ia membuka matanya dipagi yang masih buta, saat langkah kakinya kali pertama menginjak tanah, saat waktu demi waktunya ia habiskan untuk beramal dan sebagainya, selalu, dan selalu harus diniatkan karena mencari ridho Allah. Jangan sampai niat dan hati kita terkotori oleh kepentingan-kepentingan yang buruk. Semoga kita termasuk golongan yang senantiasa IKHLAS dan selalu menge CEK setiap niatan kita dalam memperjuangkan sistem NYA, amiin. [Fikri]

 

 

sumber bacaan :

Hizbut Tahrir, Pilar-pilar pengokoh Nafsiyah Islamiyah, HTI Press

Khalid Muhamad Khalid, Karakteristik Perihidup Enam Puluh Sahabat Rasulullah, CV Diponegoro, Bandung, 1999

dan berbagai sumber