“(Paman), demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan agama ini atau aku hancur karenanya.” [Rasulullah saw.]

Ehm, kalo dengar kata romantis, pastinya pikiran kita selalu tertuju kepada hal-hal yang urusannya dengan cinta, keindahan, sesuatu yang mengasyikkan, dan tentu kesannya kayak di film-film itu. Nggak salah-salah amat sih kalo kita punya pikiran begitu. Karena apa? Karena kalo nyontek di KBBI alias Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi romantis adalah: bersifat seperti dalam cerita roman (percintaan); bersifat mesra; mengasyikkan.

Dalam Microsoft Encarta Dictionary tertulis bahwa kata romantic banyak arti, dua di antaranya adalah: Pertama, suitable for love: characterized by or suitable for lovemaking or the expression of tender emotions: romantic candlelit dinner for two (cocok untuk cinta: dikarakterisasikan oleh atau cocok untuk hubungan seksual atau ekspresi perasaan yang lembut – misal, makan malam dengan lilin yang romantis untuk berdua)

Nah, yang kedua diartikan involving enthusiasm: relating to or characterized by a fascination or enthusiasm for something, especially of an uncritical or indefinable (meliputi antusiasme: berhubungan atau digolongkan dengan pesona (daya tarik yang sangat kuat) atau antusiasme (kegairahan/semangat yang besar) terhadap sesuatu, khususnya sesuatu yang tak dapat dilukiskan. Nah, ini kayaknya cocok untuk romantisnya para pejuang kebenaran. Klop banget dengan kutipan hadis Rasulullah saw. di awal tulisan ini.

Nah, kalo menganalisis definisi romantis dari KBBI, sebenarnya mesra itu apa sih? Mengasyikkan itu apa sih? Begini, mesra itu artinya lekat dan sangat erat. Sementara mengasyikkan artinya menyenangkan. Lalu, apa hubungannya dengan pejuang kebenaran sampe dibilang romantis? Sabar, tunggu saatnya tiba, jangan keburu-buru. Oke?

Sobat muda muslim, kita tentu senang kan kalo nonton film percintaan yang banyak adegan romantisnya? Jujur saja, saya juga suka. Apalagi kalo nonton film India. Kejar-kejaran cowok-cewek di antara pokok-pokok pohon, atau lari-lari kecil sambil bergandengan tangan dengan pasangan membuat kita seperti berada di film itu. Adegan seperti ini, kayaknya enak aja dilihat di film-film. Kalo dalam kehidupan nyata, biasanya malu kalo dilihat orang kan? Ehm, saya aja kalo kebetulan ada di taman bareng istri pengen juga dalam hati main kejar-kejaran, tapi malu kalo dilihat orang. Padahal, itulah adegan yang sangat mesra dan mengasyikkan kayak di film-film. Suasana hati kita jadi berbunga-bunga. Betul ndak?

Jujur saja sobat, cerita bertabur keromantisan sering membuat kita bertenaga. Hidup rasanya dapat tambahan darah segar. Nafas baru dan semangat menggelora. Rasa-rasanya dunia adalah milik kita, yang sedang dimabuk cinta dan dibakar api asmara. Kita jadi ngedadak ‘lupa diri’, dan kita menjadikan orang yang kita cintai sebagai dewi or pangeran pujaan hati. Kita bersedia berkorban dan menjadi bagian dari hidupnya. Sehari saja tak jumpa dan komunikasi, rasanya hati kita jadi dingin dan beku. Tapi, ketika rindu itu terpuaskan, dinding es yang kokoh menyelimuti hati kita pun perlahan mencair (suit..suit.. swiiw!)

Oya, orang yang paling romantis menurut saya (tentunya setelah nonton film atau baca buku cerita) adalah orang yang sangat mencintai apa yang dicintainya. Ia rela menderita demi kekasih hati yang dicintainya. Malah, menderita saja belum cukup bila hal itu belum membuat kekasih hati tersenyum. Maka, berkorban nyawa pun menjadi bagian dari perjuangannya demi ikatan cinta dengan sang kekasih hati. Ia begitu mesra dan seperti tak ingin melepaskannya. Jika ada yang ingin menghancurkan ikatan cintanya, ia akan berubah seperti singa ngamuk yang siap menerkam siapa saja yang mengganggunya. Ia pun akan cemburu jika kekasih hatinya ada yang hendak melukai dan mencederai (termasuk jika sang kekasih hati dekat dengan orang lain)

Saya jadi inget film Romeo and Juliet. Sang pengarangnya, William Shakespeare, berhasil membesut karya fenomenal tentang keromantisan pasangan yang sedang jatuh cinta; Romeo dan Juliet. Banyak pujangga (termasuk mungkin kita) yang terinspirasi dari karya ini, yang konon kabarnya dibuat berdasarkan kisah nyata penulisnya sendiri. Begitu dalam, begitu nyata, begitu indah terasa. Dan yang jelas, begitu banyak sisi-sisi romantis yang bisa membuat pembaca novel dan penonton filmnya hanyut dalam suasana yang diciptakannya. Fantastis.

Saking terpengaruhnya dengan cerita Romeo and Juliet, waktu SMP saya sering berkhayal bisa bacain puisi hasil karya saya (yang seadanya itu) di bawah jendela kamar rumah teman wanita saya. Tapi, itu nggak terjadi, karena cuma khayalan belaka. Bang Boim Lebon, pengarang serial Lupus Kecil waktu sama-sama ‘manggung’ dengan saya pernah cerita kepada peserta bedah buku Jangan Nodai Cinta bahwa ketika doi SMA sempat pdkt ke lawan jenis dengan menjatuhkan sapu tangan. Ya, seperti di film-film percintaan, gitu. Padahal sapu tangan biasanya dipake untuk ngelap mulut sehabis makan, atau menyeka keringat di wajah, tapi bisa berubah fungsi jadi alat untuk menarik perhatian lawan jenis. Sapu tangan bisa bernilai romantis juga ya? Ya, setidaknya itu yang diceritakan Bang Boim Lebon. Ehm (meski pdktnya gagal karena dicuekkin sang gadis incerannya, kasihan deh luh—maaf lho Bang Boim)

BTW, saking bernilainya sebuah keromantisan, maka tak jarang orang bangga bila disebut sebagai orang yang romantis. Jujur saja, kayaknya kamu bakalan mekar lubang hidungnya kalo tiba-tiba temanmu bilang: “Kamu tuh romantis banget!” Bisa membengkak pula jempol kakimu kalo ada teman kamu yang nekat nulis ungkapan hatinya via e-mail: “Tulisanmu di mading sekolah kita hari ini bikin aku berbunga-bunga. Kamu memang menghargai wanita. Kamu pria idaman. Kamu sungguh romantis!” Gubrak, bisa jadi langsung pingsan dapat sanjungan begitu rupa. Iya dong, siapa yang sebel kalo disebut romantis? Nggak ada yang sebel kan kalo dapet gelar romantis? Percayalah! (kecuali romantis dalam pengertian sebagai akronim dari: ”roman manis hati iblis!” Wadau!)

Sobat muda muslim, ngomongin soal romantis-romantisan (dan romantis beneran tentunya) nggak pernah bosan. Bahkan bila perlu kita meyakin-yakinkan diri sambil berharap bahwa kita bisa memiliki sifat romantis. Kita terancam bakalan dibilang orang yang paling mesra dan mengasyikkan (ehm..ehm…). Siapa yang pengen? (Duielee sampe segitunya ye? Ya, nggak apa-apa. Namanya juga usaha. Hidup romantis!)