“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad [47]: 7)

 

Ba’da salam dan tahmid.

Saudaraku yang insya Allah dimuliakan Dzat yang Mahamulia, aku berharap semoga antum semua berada dalam lindungan Allah. Senantiasa bersyukur dan bersabar atas segala yang telah diberikanNya kepada kita. Kita yang lemah dan tak berdaya, meski hanya untuk mengatur detak jantung dan hembusan nafas ini. Semoga kita menjadi hambaNya yang pandai mencuri perhatianNya dan menjadi kekasihNya. Kita berharap agar apa yang kita lakukan dalam keseharian kita senantiasa sesuai dengan petunjukNya dan petunjuk RasulNya. Berserah diri dengan segala ketentuanNya dan menjadi pejuang untuk membela agamaNya.

Saudaraku, ayat pembuka dalam surat ini semoga selalu mengingatkan kita semua bahwa perjuangan kita dalam menegakkan Islam dan meninggikan agama Allah ini, bukanlah kesia-siaan. Semoga ayat ini tertanam kuat dalam hati dan pikiran kita, agar perjuangan dakwah Islam ini senantiasa menjadi tujuan utama dalam kehidupan kita. Sekaligus menghibur kita bahwa apa yang kita lakukan menjadi bagian dari amalan yang akan memberatkan hitungan amal baik kita di akhirat nanti. Menjadi sarana untuk mengantarkan kita ke surgaNya.

            Saudaraku seperjuangan, tak ada kata henti dalam hidup kita untuk senantiasa melakukan amal baik. Seharusnya memang tak pernah ada pula keluh kesah dalam perjuangan dakwah ini. Semestinya pun tak keluar dari mulut kita kata putus asa karena begitu banyak perjuangan dakwah yang menyedot perhatian kita. Yakinlah, Allah Swt. tak pernah dan tak akan pernah salah dalam mengkalkulasi amalan baik kita. Mungkin kita lupa sudah berapa amal baik yang kita kerjakan, tapi Allah tak akan pernah lalai mencatatnya dan menghitungnya untuk bekal kita di negeri abadi kelak. Begitu pun pasti kita lupa berapa banyak amalan buruk yang pernah kita lakukan, tapi Allah pasti tak akan pernah lupa dan akan dengan mudah mencatatnya. Tapi kita memohon kepadaNya, agar tetap diberikan kekuatan untuk melakukan amalan baik selama hidup kita. Sebanyak mungkin.

            Saudaraku yang telah memberikan perhatian dan tenaganya untuk dakwah Islam, masih ingatkah kalian ketika kita pertama kali belajar Islam? Kita bahkan mengeja nama Allah dengan amat susah. Kita tidak paham tentang isi al-Quran, kita tak mengerti apa arti perjuangan dakwah, kita bahkan buta dan tak pernah tahu dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup di dunia, dan ke mana akan pergi setelah kematian. Aku pernah merasakan demikian, dan aku yakin di antara kita bahkan ada yang pernah melakukan kemaksiatan sebelum akhirnya mendapat hidayahNya. Aku yakin di antara kita bahkan pernah menolak ajakan dakwah dari seseorang. Mencibir pelakunya dan menganggap sia-sia perbuatan mereka. Itu ketika kita tidak tahu.

            Semoga memori tentang ini menjadikan kita manusia yang bijak. Pengemban dakwah yang peka dan mampu menangkap segala sisi manusia sebagai objek dakwah kita. Kita tumbuh menjadi pengemban dakwah dan pejuang Islam yang sabar dan penuh kelembutan. Jika kita berhadapan dengan objek dakwah yang menolak, bahkan menyerang kita, anggap saja bahwa mereka seperti kita dulu yang juga membutuhkan sentuhan kuat orang yang tak bosan mengajak kita menjemput hidayahNya. Jangan pernah merasa menilai umat ini telah jumud, jika kita sendiri belum maksimal mengajaknya untuk menjadi lebih baik. Tak perlu mengampuni usaha kita yang gagal dengan alasan umat sudah bosan dengan dakwah. Lalu kita merasa benar sendiri dan menyalahkan mereka.

            Saudaraku tercinta, ingatlah bahwa kita bisa seperti sekarang ini juga butuh waktu dan proses. Karena sejatinya perubahan tak bisa dicapai seperti makan cabe rawit yang langsung terasa pedasnya. Atau proses produksi mesin dalam industri yang bisa seragam dan mudah dibuat. Tapi kita berhadapan dengan manusia. Berhadapan dengan jiwa yang seringkali tak mudah untuk diajak berpikir sama seperti yang kita inginkan. Proses perubahan sosial memang tak semudah proses produksi mesin industri. Selalu saja ada variabel yang mengharuskan kita banyak bersabar dan mencari cara jitu mengatasinya.

            Dalam teori pertukaran sosial (social exchange theory) disebutkan bahwa selama hidupnya manusia selalu berpikir untung-rugi atas apa yang akan diperbuatnya. Itu sebabnya kemudian muncul variabel cost and reward (biaya dan imbalan). Dengan kenyataan seperti ini, sudah saatnya  kita mulai memahaminya dan menjadikan kita bisa lebih peka terhadap berbagai masalah manusia dan berusaha mencari inovasi yang terbaik untuk menyelesaikan masalah tersebut. Jika kita mengingat masa lalu, ketika kita memilih mengkaji Islam dan bahkan serius terjun dalam perjuangan dakwah pasti sudah memikirkan ‘untung-rugi’ atas perbuatan yang akan kita ambil. Dari mulai penilaian dengan persepsi yang terendah, sederhana, sampai yang tertinggi dan kadang tak bisa diukur dengan materi.

            Mengukur untung-rugi sepertinya memang naluriah manusia. Ketika akan menentukan suatu perbuatan yang akan dikerjakan kita akan berpikir dengan serius: Apa keuntungan jika kita melakukan perbuatan itu? Berapa harga yang harus ditebus? Sebandingkah dengan keuntungan yang didapat? Jika lebih banyak untungnya, kita pasti akan melakukannya. Tapi kita akan meninggalkan perbuatan tersebut jika ruginya lebih besar dari keuntungan yang akan kita dapatkan. Perlu dicatat bahwa pertimbangan untung-rugi atas dasar cost and reward itu pasti dipengaruhi oleh persepsi kita masing-masing saat itu. Persepsi yang muncul sesuai dengan latar belakang budaya kita, tingkat pendidikan kita, wawasan kita, dan informasi yang kita terima selama ini. Dan menurutku, pertimbangan ‘untung-rugi’ yang paling benar adalah menyandarkan kepada aturan Islam. Bukan yang lain.