B

ulan Februari telah tiba. Bulan kedua dari Tahun Masehi ini, dianggap oleh sebagian kalangan khususnya kaum remaja adalah bulan “keramat”. Bagaimana tidak…!, dalam rangka menyambut kedatangannya, sebagian teman-teman kita menyambut dengan berbagai macam “ritual”, yang dikaitkan dengan nama cinta. Apakah gerangan … ? diantara mereka, baik cowok or cewek mulai dari anak smp sampe anak kuliahan sudah kenal and akrab dengan kebudayaan dari Barat ini. that’s “Valentine Day“.

Ditengah meriahnya perayaan tersebut, suasana warna merah jambu menjadi sebuah trend dan hiasan yang mewarnai berbagai pusat-pusat keramaian and berbagai produk aksesoris yang biasanya diajadikan sebagai simbol Valentine Day. that’s tidak lain dan tidak bukan Coklat and Bunga, keduanya ini biasanya wajib disajikan pada perayaan ini. Konon katanya sebagai tanda kasih sayang seseorang kepada yang dicintainya. Romantis banget … !

Begitu pula media massa dan elektronik tidak ketinggalan ikut mempubliskasikan perayaan ini. Mereka seakan-akan berlomba-lomba dan tidak mau ketinggalan dalam menyampaikan pesan Hari Cinta dan Kasih Sayang Sedunia.

Yup…, itulah sekelumit fakta and realita yang terjadi ditengah-tengah kehidupan kita. Lalu, apa sich yang harus kita pahami akan kenyataan itu. Wahai sobat muda muslim, kita semua tahu bahwa dalam melakukan segala sesuatu harus tahu terlebih dahulu ilmunya, termasuk fakta dan hujah (dalil) yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah, karena mau tidak mau selaku umat muslim marilah kita saling mengingatkan dan apa yang kita lakukan harus selalu terkait dengan yang namanya hukum syara yaitu Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh dan Haram. Maka untuk mengetahui status hukum suatu perkara kita harus menyelusuri asal-muasalnya (sejarahnya). Termasuk mencari status hukum perayaan Valentine Day. Dari berbagai sumber yang kita dapat, ternyata perayaan hari Valentine itu merupakan kisah yang penuh dengan kurafat dan kesyirikan. Mau tau ceritanya .. ? begini ceritanya.

Valentine sebenarnya adalah seorang martyr (dalam islam disebut ‘Syuhada’) yang karena kesalahan dan bersiafat dermawan maka dia diberi gelar Saint atau Santo. Pada tanggal 14 Februari 270 M, St. Valentine dibunuh karena pertentangannya dengan penguasa romawi pada waktu itu Raja Claudius II (268-270 M). Untuk mengagungkan dia (St. Valentine), yang dianggap sebagi simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cobaan hidup, maka para pengikutnya memperingati kematian St. Valentine sebagai ‘upacara keagamaan’. Tetapi sejak abad 16 M, upacara keagamaan tersebut mulai beransur-ansur hilang dan berubah menjadi ‘perayaan bukan keagamaan’. Hari Valentine dihubungkan dengan pesta jamuan ‘kasih sayang’ bangsa Romawi Kuno yang disebut “Supercalis” yang jatuh pada tanggal 15 Februari. Setelah itu orang-orang romawi masuk agama nasrani, pesta Supercalis kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. Valentine. Penerimaan upacara kematian St. Valentine sebagai hari ‘kasih sayang’ juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropa bahwa waktu kasih sayang itu mulai bersemi ‘bagai burung jantan dan betina’ pada tanggal 14 Februari.

Itulah sejarah asal-muasal perayaan Valentine, yang pada kenyataannya masih banyak diantara kita (kaum muslimin) yang belum tersadarkan. Yang miris yaitu mereka yang ikut-ikutan alias MemBEBEK kepada budaya orang kafir, padahal sudah jelas tercantum didalam Al-Qur’an dan Hadits tentang keharamnnya, seperti Sabda Rosul yang artinya :

“Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut.” (HR.At-Tirmidzi). Dan Allah berfirman :

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra :36)

Bila dalam merayakan bermaksud untuk mengenang kembali Valentine maka tidak disangsikan lagi bahwa dia telah kafir, adapun bila ia tidak bermaksud demikian maka tidak disangsikan bahwa ia telah melakukan suatu kemungkaran yang besar. Ibnul Qayyim berkata, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bgi mereka atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya !” dan semisalnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai kekafiran paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyembah salib. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya disisi Allah dan lebih dimurkai daripada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama, terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut.

Bukan ucapan selamat “Valentine Day” yang ingin kuucapkan, tetapi selamat merenungi nikmat Allah yang telah diberikan selagi ruh bersatu dalam jiwa.