Assalaamu’alaikum,..

Saudara-saudara! Saya bukan orang yang hobi membaca cerpen, apalagi nulis cerpen. Tapi, berikut ini saya tampilkan sebuah cerpen. Yang menulis adalah seorang muslimah, saya tidak tahu siapa nama aslinya, tapi nama ‘pena’nya Asiah Muslimah. Cerpen ini kemarin masuk ke email saya. Menurut penuturan penulisnya, cerpen ini beliau tulis karena prihatin dengan penderitaan saudari-saudarinya yang ada di Irak. Beliau ingin sekali bisa menolong mereka, tapi tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menggugah kesadaran saudaranya yang lain melalui sebuh cerpen. Tentu antum semua dah pernah membaca surat seorang muslimah dari balik dinding Abu Ghirab (atau ghroib, nggak tau) itu, kan? Saya sendiri tidak tega untuk memikirkan hal-hal yang dikisahkan dalam surat itu. Nah, itulah yang ingin disampaikan dan divisualisasikan secara lebih tajam oleh cerpen ini. Dibaca, ya!

LUKA

Tangisan itu terdengar setiap saat, setiap menit, setiap detiknya di sebuah penjara di abu ghirab. 12 tentara baru saja keluar dari bilik penjara. Seorang muslimah sedang tergeletak tidak berdaya. Merangkak mengambil pakainnya yang koyak disudut rungan setelah dilemparkan oleh salah seoang tentara. Dengan tangan yang masih bergetar dipakai pakaiannya segera untuk menutupi tubuhnya.  Kemudian duduk meringkuk, dan kembali menangis. Hari ini, Ruqayah kembali terluka. Awalnya lukanya biasa saja, cuma luka gores yang mungkin tidak akan lama sembuhnya. Namun kini dia bukan lagi luka biasa. Semakin hari luka itu semakin terbuka lebar, dia sudah menoreh jauh ke dalam, mengenai organ penting dalam tubuhnya yaitu hati. Beberapa jam kemudian dia berdiri dan lari menuju dinding untuk membenturkan kepalanya, entah untuk kali keberapa ia melakukan itu setiap kali ia diperkosa. Astagfirullahal’adzim…….. Astagfirullahal’adzim…….. Astagfirullahal’adzim……..  terdengar dari bibirnya yang gemetar. Ia menjerit, kemudian mencoba menenangkan dirinya kembali. Tetesan darah itu sudah mengucur dikepalanya. Namun masih membuatnya tersadar akan perbuatannya.

“ya Allah, “Ampuni aku, aku khilaf tapi sampai kapan”. jeritnya. “Ya allah, kenapa tidak kau ambil nyawaku saat itu juga, bukankah aku akan mati sahid dalam pertempuran itu….aku sudah tak sanggup lagi menerima..”. Ruqayah manangis tersedu.

Beberapa saat kemudian, datang seorang tantara sambil menggendong  seorang muslimah yang terikat tangannya menuju sebelah bilik ruangan penjara kamarnya . Wanita itu dihempaskan begitu saja. Tentara tersebut menutup kembali jeruji itu dan meninggalkan muslimah tersebut. Ruqayah berlari mendekati  bilik muslimah yang baru dibawa masuk itu. “Sarah, kau tidak apa-apa”. Ruqayah berteriak dari bilik kamarnya. Menggoyang-goyangkan jeruji besi yang memisahkannya dengan Sarah. Ingin rasanya jerui itu ia robohkan saat itu juga. “sarah, jawab aku….apa kau baik-baik saja…” tangisnya. Sarah membuka matanya perlahan-lahan, mencoba mencari arah suara itu. Dilihatnya Ruqayah sedang menangis untuknya. Sarah mencoba untuk berdiri, namun ia kembali terjatuh. Dengan sekuat tenaga ia merangkak mendekati Ruqayah, menggapai tangan yang sedari tadi terulur, “…aku…aku….baik-baik saja…. Ruqayah……, jangan menagis”. Digenggamnya tangan sahabatnya itu. “pakai ini, untuk menutupi tubuhmu, nanti Allah melihatmu tidak menutup auratmu”. Ruqyah memberikan kerudungnya yang panjang pada Sarah. “wajahmu pucat, bagian mana yang sakit,…. katakan padaku”. Ruqayah tampak cemas.  “seluruh tubuhku sakit, tapi disini yang paling sakit” Sarah memegang dadanya. “kurasa kaupun tak bisa menyembuhkannya Ruqh..”. Sarah mencoba tersenyum. “kenapa dengan kepalamu Ruqayah, dia berdarah, biadab…mereka sudah memperkosamu, apa mereka juga hendak membunuhmu…Sarah berteriak tapi suaranya terdengar lemah. “tidak.. Sarah.” Ruqayah menggeleng. “Ruqayah….jangan katakan kau ingin mengakhiri hidupmu..”sahut Sarah lemah. Digenggamnya tangan Ruqayah sekuat tenaga. “aku tidak sanggup lagi…lebih baik aku mati daripada harus menjadi pelampiasan nafsu bejat mereka”. Ruqayah menangis. “tidak…kita tidak boleh seperti itu…”Sarah mengeleng pelan. “bunuh diri adalah perbuatan yang sangat dimurkai Allah….apa kau mau dimurkai oleh Allah, hah…”Sarah mempertegas suaranya. “tapi sampai kapan sar…., katakan padaku…sampai kapan”?, lihatlah…tubuh kita sudah nista…lihat jamila, siti, Qiran..mereka-mereka semua…kita Sar…kita..sudah melahirkan anak-anak mereka….anak-anak turunan anjing neraka… “. Ruqayah terdiam. “tunggulah, pertolongan Allah itu akan datang sayang…” Sarah mencoba menghibur Ruqayah, namun Sarah sediri-pun telah putus asa dengan harapannya. “kapan pertolongan itu akan datang Sarah…kapan…kapan….” Ruqayah menarik-narik kerudung Sarah.

“sabarlah, Daulah akan segera berdiri… saudara-saudara kita sedang memperjuangkannya”. Sarah mencoba meyakinkan Ruqayah. “saudara…saudara yang mana?, kau taukan hatiku juga terluka karena siapa…bukan…bukan cuma hatiku….tapi hatimu juga khan Sarah…”. Sarah terdiam, tak bisa menjawab pertanyaan Ruqayah, sebab dia tau bahwa hatinya juga terluka sama seperti Ruqayah. Terluka pada orang yang sama.  “Siapa yang kau katakan saudara….siapa?…apa kaum muslimin yang diluar sana…..dimana kaum muslimin sarah, dimana mereka …..disaat kita dianiya, disaat kita diperkosa…” Tangis Ruqyah semakin menjadi. Sarahpun tak bisa menahan air matanya. “tiap hari Sarah…tiap hari kita diperkosa….tiap hari kita berteriak meminta pertolongan mereka…tiap hari…..”. Ruqayah tak bisa melanjutkan kata-katanya karena dadanya tersa begitu sesak.

“kau benar Ruqh…saudara kita diluar sana atu belahan dunia yang lain mungkin sekarang mereka sedang tidur dia atas ranjang yang empuk, makan makanan yang enak, hidup yang nyaman, tanpa memperdulikan kita”

“Sarah…bukankah sesama kaum muslimin adalah bersaudara?, itu berarti

Kita adalah adik  mereka, atau kita adalah  kakak mereka, bukankah persaudaraan kita lebih kuat daripada saudara kandung, Kita diikat oleh Allah dengan akidah islam”.

Sarah hanya bisa mengangguk. Mereka terdiam.

“Ruqh, ingatkah engkau pada jaman Rasullullah dulu, ketika itu ada muslimah yang tersingkap auratnya oleh seorang yahudi, muslimah itu menjerit. Saat seorang muslim mendengar teriakan itu, ia langsung datang menolong muslimah tersebut sehingga mengakibatkan muslim itu terbunuh, dan karena kejadian itu sehingga Rasulullah memerangai kaum yahudi tersebut dan mengusir mereka dari madinah”. Mereka pun saat itu tersenyum mengenang pribadi Rasullullah sebagai pemimpin yang membela kehormatan wanita. “saat itu khan, Rasulullah masih hidup, sarah..jadi wajar saat itu kaum muslimin masih bersudara?”.

“siapa bilang..Ruqh.., saat Rasulullah-pun sudah meninggal, persaudaraan itu masih tetap ada. Saat itu, pada jaman kekhalifaahan Mu-tashim,  saudara kita dulu pernah menolong seorang muslimah yang hampir bernasib seperti kita ketika ia dilecehkan oleh seorang pejabat Romawi di kota Amuria. Sarah mencoba menghibur Ruqayah.

“iya Sarah…aku mendengar ketika ia dilecehkan, ia menjerit “Dimana Islam?, dimana khalifah Mu’tashim?, dan teriakannya sambung menyambung hingga terdengar oleh khalifah, dan saat mendengar itu khalifah segera menganggap itu adalah sebagai penghinaan terhadap martabat islam dan umat islam secrara keseluruhan, sehingga ia pun mengirim pasukan dimana kepalanya sudah sampai di kota Amuria tapi ekornya masih di kota bahgdad“ Ruqayah menyambung.

“kau benar Ruqh…saat itu juga terjadi pertempuran sehingga mengakibatkan 30 ribu tentara Romawi tewas dan 30ribu lainnya ditawan dan kemenangan di tangan khlifah”.

Kisah itu dapat menghibur mereka saat itu.” Muslimah itu beruntung, hidup di jaman Daulah Islam yang akan selalu menjaga dirinya. Tapi kita…….”. Ruqayah kembali terluka. “sarah, apakah kau tidak mendengar saudari kita  di Perancis terdzalimi oleh . pemerintahannya. mereka dipaksa untuk membuka auratnya jika hendak keluar dari rumah, sekarang saudari-saudari kita di Inggris mendapat hal yang serupa pula… sampai kapan rasanya ini akan terus berlangsung ?”. Sarah kali itu hanya tersenyum. Merekapun diam sesaat. Dan saling membelakangi, bersandar pada jeruji yang membatasi mereka.

Sarah tiba-tiba terjatuh…ia melepaskan geanggaman tangan Ruqayah. “Sarah….Sarah….kau kenapa….kau sakit…” Ruqyah menangis. Dia tidak bisa memeluk tubuh Sarah, jeruji itu tak mungkin ia patahkan. Sarah…bukankah kau akan bersamaku keluar dari sini…kau sendiri yang meyakinkan aku bahwa saudara kita akan datang menolong kita…Sarah demi Allah, kumohon bertahanlah…”. Ruqyah terus menjerit meminta tolong supaya ada yang datang menolongnya. “Sarah…kita akan keluar dari sini bersama-sama. Memperjuangkan kembali kehormatan islam yang sudah terinjak-injak”. “Kau taukhan Al-Quran-mu di injak-injak dan dijadikan lap kaki oleh penjajah kafir, Rasulullahmu dihina….kita akan menggantikan laki-laki muslim yang banci itu… kau, aku dan muslimah diluar sana…kita adalah pemimpinnya…., tapi komohon jangan sekarang. Ruqyah terus menangis. Sarah tak bisa berbicara, hanya sebuh senyuman manis terakhir yang ia tinggalkan untuk Ruqayah. ….Ah rasanya luka itu semakin dalam.

Tubuh itu hanya tergolek begitu saja, tanpa terpedulikan. Sementara Ruqyah terus saja menjerit. Dimana kalian laki-laki muslim, dimana kalian….apa kalian hanya bisa bersembunyi  di sudut-sidut mesjid, atau bertafakur dirumah, …apakah nyali kalian begitu ciut hingga takut dan tunduk kepada penguasa yang berteman dengan orang kafir…atau ingin melarikan diri dari perjuangan ini..”.

“Tidakkah kalian malu pada Allah, malu pada Rasulullah, malu pada Sahabat?”,

Ah…tapi aku harus kembali kecewa, sebab kalian tidak mengikuti jejak Rasulullah. Ah kalian bukan Abu Bakar, bukan Umar, bukan Ustman, bukan Ali bukan…siapa-siapa”.  Kalian hanya manusia yang berjenis kelamin laki-laki yang berlabelkan islam.

aku tak butuh doamu, aku butuh pengorbananmu? “Kelak…di hari perhitungan…akan kuminta pertanggung jawaban kalian atas diriku, atas Sarah…atas setiap muslimah…atas setiap darah yang kami teteskan….”.

Malam itu Ruqyah sudah berputus asa, hanya melihat jasad Sarah yang masih dibiarkan. Setidaknya dia masih menemaiku saat ini dengan senyumannya. Ruqyah Mencoba tersenyum dan berdoa, semoga suatu saat nanti ada saudaranya yang datang menolongnya dari neraka dunia itu. Dengan luka disekujur tubuh, dan sisa tenaga yang ada, ia berdiri menghadap kiblat, menghadap Allah, menunaikan kewajibannya. Saat itu juga datang 18 orang tentara memasuki ruangnnya. Menariknya disaat dia sedang menghadap Rabnya. “lucuti semua pakainnya, malam ini kita bersenag-senag kembali”.

(Asiah Muslimah)