Lelaki tua berambut putih itu serak, kacamata ia tanggalkan. Dan terdengarlah senguk yang mengharukan. Ia teringat. Lamat-lamat ia mengucap, “Ya, Rasulullah, ya Rasulullah!” Dan isak kembali terdengar.

Dihadapannya, aku tak mengeluarkan setitik airmata. Aku hanya tersenyum dan mengatakan padanya bahwa itulah bukti sang pencinta.

Setelah meredakan emosi. Lelaki tua itu melanjutkan kisah manakala seorang pria yahudi buta yang setiap pagi petang mulutnya tak henti menghina dan menyeru agar tak seorangpun dari kaumnya, orang disekelilingnya, tertarik kepada keagungan Muhammad.

Pria tua Yahudi dan buta itu tak pernah tahu bahwa rasulullahlah yang memberi makan mulutnya setiap hari menggunakan roti manis, yang dicelup kedalam susu. Pria tua Yahudi itu tak tahu, ia terus meracau hingga kematian Rasulullah. Dan ketika Abu Bakar melanjutkan pekerjaan rasul dengan member makan pria Yahudi dan buta, menggunakan tangannya sendiri, maka pria Yahudi itu serta merta meludahkan makanannya.

“Gerak tangan yang setiap hari memberiku roti itu tidak sekasar tangan mu!” Pria Yahudi buta itu melolong. “Rotinya pun tidak selezat dan semanis yang diberikan olehnya setiap hari!.” Ia pun bertanya. “Siapa kamu?”

“Aku sahabatnya,” Kata abu bakar.

“Lantas, siapa lelaki yang setiap hari memberiku roti?!”

”Lelaki itu telah meninggal. Dialah Muhammad.”

Pria Yahudi buta itu terkejut, ia pun bersimpuh menangis dan bersyahadat.

Muhammad O’ Muhammad betapa agungya dikau, hingga lelaki tua yang menceritakan dirimu, yang ada dihadapanku kembali terisak.

***

Aku tak yakin apa yang diceritakannya berasal dari hadist yang bisa dipertanggung jawabkan atau tidak. Aku tidak memfokuskan diri pada hal itu, aku cukup terharu ketika sebuah sosok 1400 tahun lalu mampu ia hadirkan kedalam lubuk jiwanya. Sosok yang demikian jauh itu, mampir, mengurapi hatinya karena cinta.

Cinta-cinta yang sedemikian menyesakkan. Cinta yang begitu menggebu. Cinta yang demikian harum. Cinta kepada sesuatu yang dicintai Pemiliki dan Semesta. Kecintaan yang TIDAK bersumber pada resume sebuah buku tipis aku dan kamu pelajari saat sekolah dasar hingga SMA dan bahkan perguruan tinggi. Kecintaan yang tidak bersumber pada buku acuan yang di-winzip: yang hanya menceritakan kapan beliau lahir, menikah dengan khadijah, mengalami perang Badar, Khandaq, dan naik haji lalu wafat. Kecintaan yang tidak bersumber pada rangkuman tipis yang tidak memunculkan perasaan haru karena saking singkatnya.

Kecintaan pada nabi dan rasul yang lagi-lagi bukan berasal dari kisah duapuluh lima Nabi yang dikhatam-tuntaskan dalam buku super tipis seharga lima ribu yang sering dijajakan di terminal-terminal.

Padahal, sejarah detail kehidupan rasul yang sebenarnya disesaki oleh kisah antropologis mengenai hasrat cinta yang kini dilipat oleh kisah mengenai Ophelia dan Aphrodite. ingatkah kau akan kisah Rasul yang mandi di dalam satu bejana, Muhammad yang memanggil istrinya dengan panggilan sayang khumaira. Ingatkah kau akan Muhammad yang menjahit pakaian dan sepatu usang tanpa bantuan istrinya?

Tahukah kau suatu saat, beliau ditanya oleh salah satu istrinya:

 

“Siapakah yang paling engkau cintai?” “Yang aku cintai adalah yang aku beri cincin.”

 

Dan setelah rasulullah meninggal, istri-istrinya baru mengetahui bahwa mereka semua diberi cincin oleh rasulullah.

Tahukah kau, akan kisah yang lain: kisah yang disesaki oleh kisah heroisme diri dan sahabat-sahabat pilihannya (ketika gigi serinya patah dan tanggal, tubuhnya koyak, sahabat-sahabatnya mengiklaskan tangan untuk dipapas pedang, badan dan punggung untuk dilembing, kisah tragis kala ia menceritakan bahwa cucunya akan dibunuh dan ternyata Husainlah yang dipenggal dan kepalanya diarak di Karballa, kisah yang menyerupai Nyanyian Roland, kisah heroik yang bahkan tidak hanya hidup dan diceritakan.

 

Tahukah Kau akan kisah mengenai kesedihan kala ia ditinggalkan Khadijah yang agung, ditinggal pamannya Abu Thalib, dan saat di Thaif ia meminta perlindungan dari ancaman dan ia disambut oleh lemparan batu dan tahi unta. Ia didera rantai kemalangan yang saling terkait. Bagaimana dengan kisah mengenai pengabdian ketika ia memeluk pinggang sahabat kulithitamnya ketika berabad-abad sebelumnya manusia di pisahkan oleh kasta dan ras?; bagaimana dengan kisah asketis saat Umar yag garang pun menangis kala melihat tubuh lelaki yang di tangannya terbentang kekuasaan Romawi dan Parsi tercetak pelepah kulit kurma?; dengan kisah kejujuran, kasih sayang, ketegasan, kejeniusan, kepasrahan, kemampuan militer dan strategi yang rumit, kisah dan kisah seribu satu macam kisah yang tak mungkin tuntas hanya dalam lembar buku yang dijual lima ribuan. Kisah yang sebenarnya tak mungkin tuntas dalam kertas setebal buku Count of Monte Christo atau Taiko. Kisah-kisah yang mengepak banyak aforisma.

 

Kita tak mengenal beliau. Tak begitu mengenal Muhammad secara dekat sebab kita lebih mengenal khasanah dewa dewi Olympus yang dikidungkan Homerus dan penyair lainnnya tiga ribu tahun yang lalu. Kita lebih mengenal hasrat Oedipus, terpana oleh hasrat seniman Montmartre atau hasrat lukisan tangan terbakar yang didedikasikan Gibran untuk May Ziadah.

Kita lebih merasa dekat dengan pasukan Leonidas dan serdadunya yang gugur di celah Thermophila. Kita merasa lebih dekat dengan episode perang Troya kala Achilles lompat dan menancapkan belati. O’ kita lebih fasih menceritakan protes Rainbow Warior Green Peace atau generasi Bunga dalam pesta music dan lumpur di Woodstock. Kita tak mengenal kesederhanaan karena kita dilibas oleh hasrat berkuasa seperti Nero, Corleone hingga Free Mason. Kita tak mengenal penghancuran strata, selain berkiblat pada Uncle Tom Cabins, I Have a Dreamnya Martin Luther King hingga Obama yang menjadi penguasa Negara zalim Amerika. Kita, dan kita…

O kita tak mengenal Rasulullah Muhammad secara detail padahal dari dirinya, kita bisa menemukan betapa demikian kompleks dan demikian lengkapnya khasanah sejarah kita: penuh nuansa, penuh hasrat, dedikasi, darah dan trategi, penuh cinta dan terkadang keajaiban. Dan itu hanya satu kisah, bagaimana dengan kisah-kisah disekeliling dan menjadikan Rasulullah sebagai poros: kisah para sahabat yang pemberani dan agung, kisah dibakarnya perahu di selat Giblaltar, kisah Al Fatih mengenai berjalannya perahu di bebukitan untuk menghancurkan dinding Byzantium, kisah pasukan musuh yang kakinya dirantai menjelang ditundukkannya negeri Persepolis Parsi, kisah pasukan para janda di Aceh yang menghancurkan armada laut Belanda. Kisah dan kisah lainnya….

O’ Kita tak bisa menangis. kita tak pernah bisa menangis haru, seperti lelaki tua itu… karena kita tidak tahu khasanah kita sendiri.

Ini adalah sebuah tragedy. Ketika kita hendak dibunuh, ketika leher hendak digergaaji mesin, kita malah mengasah belati untuk melakukan bunuh diri.

Kita tengah bunuh diri kawan: membunuh diri dengan tak mengenal khasanah dan peradaban sendiri.

Ya, Rasulullah, rangkum kami di telaga kautsarmu! Ya rasulullah…