Pernikahan bukanlah sekedar menyatukan ranjang pembaringan. Kalimat yang saya baca itu mengiang di telinga, memenuhi labirin otak. saya mencoba mencerna kalimat yang menjadi salah satu baris puisi karya seorang teman.

Bukan sekedar menyatukan ranjang pembaringan, tulisnya. Hal ini mengingatkan saya akan seorang teman yang pernah bertanya,

“Fik, apa arti sebuah pernikahan bagimu,” tanyanya begitu mendadak.

saya terdiam, mencari-cari kata yang baik. Tak lama kemudian saya pun mulai angkat bicara.

“Menikah berarti memberikan sebelah sayap kepada merpati agar bisa terbang menuju langit yang menjadi impiannya.”

Sedikit norak memang. Tapi teman saya tak mempermasalahkan itu. Ia malah tersenyum. “Bukan … bukan,” katanya menepiskan. “bukan memberi sebelah sayap, tetapi memberi sekor merpati lagi hingga keduanya membuat sarang tempat membesarkan dan mengajari anak-anaknya untuk membuat sarang yang nyaman di masa depan.”

saya pikir kata-katnya cukup orisinil, dan yang orisinil biasanya menancap kuat di hati. saya diam mendengar kata-kata dia. Berusaha merenungkannya, lalu saya pun bertanya. “Apakah hanya sekedar membangun sarang tetapi menyingkirkan impian.” Dan teman

saya itu yang ganti terdiam.

saya memang keras kepala, meski saya tahu sebenarnya semua hanya metafora, dan metafora antar manusia itu berbeda, bagi saya, manusia tidak akan pernah bisa terbang dengan satu sayap. Ketika kita memutuskan untuk menikah dan mempercayai seseorang, maka itulah lambang kepercayaan terhadap pasangan kita untuk menjadi sayap sebelah yang selama ini belum terpasang.

Sayap apa? Tentu sayap untuk mengepak bersama, untuk terbang ke langit. Sayap yang penggunaannya dimulai dari kesamaan kebiasaan setelah sebelumnya kita hanya memiliki satu sayap. Dan pembiasaan itu tidak mudah.

Analogi untuk menyamakan kebiasaan mungki seperti membiasakan diri kita untuk memakan sayur, padahal seumur hidup kita tak pernah bermimpi akan menikmatinya ketika mengunyahnya, itu sangat sulit bagi manusia tipe karnifora seperti saya.

Bukan sekedar menyatukan ranjang pembaringan, berarti bukan hanya berkutat sekitar seks dan cinta. Tapi lebih dari itu. saya merasa teramat bahagia ketika saya bisa mencintai seseorang karena kesamaan impian dan pandangan kami.

saya bosan hidup di jaman serba bayar ini. saya jenuh hidup di jaman yang didominasi kaum imperialis, saya juga sudah muak dengan segala standar hidup bahagia yang membuat manusia makin jauh dengan sifat manusianya. Hukum alam seperti yang diungkapkan Charles Darwin mulai mendominasi trik-trik. Evolusi yang dipaksakan membuat saya dan mungkin beberapa manusia yang sadar menjadi panas dan memaksa berteriak bersama kekesalan kami. Lalu mimpi tentang adanya pernikahan bahagia, hidup di sebuah vila indah di daerah gunung, hanya berdua, dan hidup bahagia tanpa ada yang mengganggu, impian-impian melankolis seperti itu, telah retak dan saya injak-injak. Tak ada waktunya lagi untuk mencari tempat sepi dan melarikan diri dari dunia, lalu membiarkan nafas cinta berterbangan kemana-mana. Menganggap dunia hanya milik berdua sementara yang lain ngontrak.

BRAK!! kotak impian cengeng itu telah saya buang dan saya banting. Karena sampai kapanpun dunia adalah milik Pencipta, dan kita ditugasi bersama-sama untuk menjaganya. Ingat BERSAMA-SAMA, bukan hanya berdua. Cinta yang selama ini saya kenal ternyata hanya sebatas isapan jempol yang membuat lupa bahwa saya telah dibuat menderita, bahwa saudara saya sedang menangis dan menderita dibelahan bumi sana. Lalu entah keajaiban apa yang terjadi, saya mulai menyadari betapa rendahnya cinta yang sebatas cinta. Cinta yang hanya bermimpi hidup berdua bahagia. Kini, bagi saya, cinta adalah kebahagiaan ketika berteriak bersama, bergandengan bersama, melempar bersama untuk menyelamatkan dan mempertahankan apa yang kami anggap benar. saya percaya Islam benar. Pasti banyak juga yang percaya begitu, tapi bagi saya Islam bukan hanya sekedar benar, tapi juga indah. Seindah ketika melihat gerimis pertama di musim kemarau.

Lalu aku berpikir bahwa suatu saat saya akan menikah dengan seseorang yang membantu saya berteriak dan melempar. Memeluk dunia dengan buku, pergi ke negara manapun dengan garis-garis kata. Menembus lorong waktu melihat awal revolusi, awal renaisans, awal jaman Yunani, awal kemenangan Islam hanya dengan membuka lembaran-lembaran yang membuat kami terpukau. Lalu tidak sekedar membaca dan bercerita. Kami berniat untuk berteriak, bahkan berkelahi. Agar semua orang tahu kami pun tidak hanya berharap agama kami menjadi sempurna dengan menikah, tapi kami ingin berjuang bersama dengan gandengan tangan yang halal bagi kami.

Ketika melihat salah satu dari kami mulai jatuh dan terkulai, maka salah satu dari kami akan menjadi penyangga bagi yang lainnya. Ketika salah satu dari kami mulai serak dan kehabisan tenaga, maka akan kami ijinkan pasangan kami untuk terus berteriak. Ketika salah satu dari kami gugur dalam perjuangan maka tak akan kami ijinkan pasangan kami terus menangis dan terdiam tersedu. Ini bukan waktunya menangis, ini waktunya terus berjuang, dan kami akan teramat bahagia ketika bersama-sama bergandengan tangan, melintasi Sidrotul Muntaha dengan tubuh penuh luka karena meneriakkan Kalam Allah. Ya Allah, betapa tingginya impian kami. Membentuk keluarga besar dengan anak sebanyak-banyaknya untuk dididik menjadi jundi-jundi Pencipta, membentuk sebuah benteng kecil dengan timbunan senjata berbentuk lembaran buku dalam menerjang perang pemikiran. Dan Hanya dengan berbekal, mengharapkan ridho Allah dan mencari teman untuk berjuang,