Segala sesuatu kalau terlalu sering dibicarakan menjadi tidak seksi, temasuk revolusi. Memang hal ini tergantung pada siapa yang membawakan, kalau Tessy yang membawakannya tentu jadi tidak seksi, tapi kalau saya? tentu saja!

Bicara tentang revolusi berarti bicara tentang rekayasa sosial, Jalaludin Rakhmat pernah mengeksplorasi hal ini dalam sebuah buku. Dia menjelaskan dengan baik beberapa rekayasa sosial, seperti reformasi, revolusi, dan kudeta (lainnya saya lupa, lagipula dalam pembicaraan ini kita tidak membutuhkan yang lupa. Syukurlah)

Saya hanya akan menyinggung bahasan tentang reformasi dan revolusi. Mengapa disisipkan reformasi, padahal seharusnya membahas revolusi? Saya menyengajakan membahasnya, karena terkadang reformasi tidak dipahami oleh masyarakat, bahkan yang notabene mengklaim sebagai pejuang perubahan.

Reformasi, jika diibaratkan sebuah pohon maka pohon reformasi adalah pohon yang dipercayai oleh aktivis perubahan adalah pohon yang masih ia percayai mampu memberikan buah yang baik bagi dia dan masyarakatnya. Jika di antara batang pohon terdapat benalu yang membuatnya sakit maka untuk memperbaikinya, bukan pohonnya yang harus digergaji, melainkan ranting yang terkena benalulah yang dimutilasi.

 

Contoh-contoh reformasi, bisa kita lihat dari reformasi agama Nasrani menjadi Kristen Protestan. Dalam reformasi ini, substasi keyakinan Protestan tetap satu: mempercayai Kristus sebagai juru selamat, anak, sekaligus tuhan. Perbedaannya hanya masalah cabang, semisal dihapuskannya indulgensia, dan –yang paling mengasyikan bagi pemeluknya–, diperbolehkannya pendeta memiliki pasangan hidup. Contoh lain yang bisa kita lihat, reformasi 1998 di Indonesia. Dalam reformasi tersebut mahasiswa berusaha menuntut ditegakannya hukum, demokratisasi dan penegakan HAM, namun substansi system berkenaan tegaknya UDD 1945 dan Pancasila tetap sebagai sebuah harga mutlak, tidak bisa di ganggu gugat!.

Revolusi berbeda dengan reformasi, —

kembali– jika diibaratkan sebagai pohon, penggerak revolusi tidak mempercayai pohon itu. Dia bukan saja hendak memotong cabangnya tetapi menumbangkan batangnya, menggobangnya, dan mencabut sisa-sisa pohon hingga ke akarnya, supaya pohon itu tidak memiliki kesempatan, untuk menumbuhkan tunas-tunasnya lagi. Dan dari tanah tempat tercerabutnya pohon itu, penggerak revolusi menanam pohon baru yang karakteristiknya berbeda dengan pohon yang sebelumnya di singkirkan.

 

Contoh-contoh revolusi, akan terlalu banyak untuk dipaparkan (bisa revolusi Guttenberg, revolusi Tsailun, atau revolusi Zapatista yang dikomandani Comandante Marcos di Chiapas Meksiko) akan tetapi jika kita mempersingkat bahasan, kepada revolusi sistemik yang bersandar pada ideology besar dunia, maka kita bisa mengklasifikasikannya menjadi tiga revolusi: Revolusi Prancis (bersandar pada ideology Kapitalisme), Bolshevik (ideology Sosialis Koimunis), Revolusi Muhammad di Madinah (ideology Islam).
Marilah kita membahasnya satu-persatu:

Revolusi Prancis

Revolusi ini yang menjadi tonggak terkuat bagi pertumbuhan Kapitalisme di dunia modern saat ini. Revolusi Prancis, meletus pada tahun 1789 di Perancis, dengan momentum penyerbuan berdarah penjara Bastille. Kisah penyerbuan ini terdengar heroik bagi masyarakat dunia karena pada waktu itu, rakyat bersatu dan bergerak bersama tokoh-tokohnya untuk mendobrak Bastille yang merupakan penjara bagi tahanan politik pada masa itu2).

 

Pergerakan masyarakat Prancis pada masa itu, tumbuh dikarenakan penggunaan kekuasaan yang semena-mena. Louis XIV dan istrinya, Maria Antoinette dianggap biang keladi kemerosotan moral etika, plus koruptor yang menghabiskan kekayaan negara untuk memuaskan hasrat hidup glamornya. Untuk itulah, Louis merekayasa aneka kebijakan: pajak yang mencekik diberlakukan, dan aneka macam kebijakan lain yang makin membuat rakyat Prancis kelenger menjadi gembel, diberlakukan.

 

Sebagai raja yang membawahi beratus ribu kepala Louis, tidak mau peduli. Baginya negara adalah saya “Etat cest moi!” . Bahasa Jakartanya, “Ini wilayah kekuasaan gue. Terserah gue mu ngapain. Lha rakyatnya rakyat gue. Rajanya ya gue! Lu jual, gw beli! Kalo lu protes gue piting!”

 

Etat cest moi3), yang merupakan lambang kesemena-menaan, lambang ke-egois-an Louis bersama Maria Antoinette yang ganjen itu, menjadi salah satu bahan untuk menggulingkannya. Pokoknya, pemerintahan Louis sudah tidak memiliki kebaikan lagi di mata rakyat, apalagi pemerintahan yang korup itu, ternyata didukung oleh aparat pemerintah yang busuk, bahkan agamawannya pun, ikut-ikutan (para pendeta yang seharusnya welas asih dan berpihak pada nilai kebenaran, malah ikut melakukan legitimasi terhadap kekuasaan memanfaatkan term-term kesabaran di dalam agamanya).

 

Klop sudah! Rakyat yang suffering dihimpit keadaan, bergabung dengan tokoh-tokoh politik yang menginginkan perubahan. Maka muncullah keadaan yang sama sekali baru ketika Hertogoche Faucauld Lincourt, berkata pada Louis “Sri baginda, itu bukan pemberontakan. Itu revolusi!”

 

Tumbanglah kekuasaan Louis selaku raja. Lebih dari itu, menghilanglah feodalisme digantikan oleh cikal bakal Kapitalisme, yang diobori semangat: liberte (kemerdekaan), egalite (persamaan), fraternite (persaudaraan).

 

Revolusi Prancis yang sudah dua abad (lebih) berlalu itu, kini menjadi revolusi yang gaungnya tidak mungkin dilupakan oleh sejarawan dunia. Revolusi yang menyebar keseluruh Eropa itu, kemudian menjadi arus kecil sekularisme yang –semula– diemban oleh segelintir orang, menjadi arus besar yang melandasi perjalanan sebuah kapal ideology bernama Kapitalisme Negara.

 

Semangat revolusi Perancis yang merupakan tonggak terkuat Kapitalisme, kemudian menyebar ke seluruh dunia. Seluruh dunia tercengang pada semangatnya, sehingga tak heran, di abad duapuluhsatu ini, kita masih dapat melihat influence revolusi Prancis yang sekuler terhadap berbagai macam kejadian di seluruh dunia dari mulai festival musik Woodstock, munculnya Andi dan Rizal Malarangeng di panggung politik Indonesia, ekspansi atas nama demokratisasi hingga ramalan mengenai akhir sejarah peradaban oleh seorang futurology, bernama Francis Fukuyama.

 

Revolusi Bolsevik

Revolusi ini meledak di panggung sejarah dunia bersandarkan pada ideologi Sosialis madzhab Komunis. Inti dari ide ini adalah juga sekularisme (namun atheis) yang bersumber dari filsafat materi Demokritus dan Epikurus. Disempurnakan oleh Charles Marx setelah mendialektikakan pemikiran Feurbach dan Heggel, kemudian diprakiskan oleh Vladmir Illich Ullyanov (Lenin) masa akhir dinasti Romanov.

 

Awal revolusi Bolsehevik, terjadi seperti biasa yang terjadi dengan revolusi dunia lainnya. Awalan revolusi ini, terjadi dikarenakan ketidak pedulian Tsar terhadap rakyat yang diperas habis-habisan, sampai ngos-ngosan oleh kapitalis nasional. Rakyat dipaksa berkerja 15-18 jam sehari, diharuskan berkerja tanpa istirahat yang memadai. Rakyat diperlakukan seolah seperti mesin. Dan seandainya mesin itu soak, pemilik modal tidak mau peduli. Mereka semena-mena membuang tenaga kerja yang sebelumnya berkerja mati-matian, dengan anggapan bahwa tenaga pengangguran masih banyak untuk diserap. Tsar tidak mau peduli akan hal itu. Tsar yang menjadi penguasa tertinggi malah menggiatkan perang yang dianggap tidak perlu sehingga negara mengalami kebangkrutan. Kekuatan politik dan ekonomi menjadi limbung.

 

Di tengah kekacauan itu, muncul gerakan-gerakan radikal untuk menumbangkan kekuasaan Tsar, meski sebenarnya kemunculan gerakan itu jauh-jauh hari bahkan bisa dirunut dari pendirian kekaisaran4) Singkatnya, meledaklah revolusi Bolsevik yang merupakan harapan sekaligus kulminasi dari perjuangan yang cukup lama segelintir rakyat Rusia, untuk menggulingkan dinasti Romanov yang berkuasa seribu tahun lamanya..

Tidak seperti anggapan orang awam (yang mempercayai bahwa revolusi diawali oleh golongan Bolshevik), pada faktanya revolusi untuk menumbangkan Tsar diawali oleh golongan Mensevik yang menunjuk Karenski sebagai ketuanya. Namun berangsur-angsur revolusi yang belum sempurna itu disabot oleh kedatangan Lenin dan kawan-kawan partainya. Lenin bertujuan untuk menegakan soviet dengan ideologi sosialis komunis sebagai rotornya. Dan dia berhasil!.

 

Revolusi Bolshevik mengguncangkan dunia, bukan saja karena telah meruntuhkan sebuah sistem feodal kekaisaran, melainkan juga melalui propaganda yang beringas. Melalui corong-corong dan pemberitaan media cetak atau pertemuan internasional, partai komunis soviet blak-blakan mengancam kapitalisme dunia. Bahwa, Soviet menyerang negara-negara Kapitalis –pada saatnya nanti– demi misi menyamarata dan menyamarasakan penduduk planet bumi.

Sebelum meraih tujuannya akhirnya, Soviet dengan ideologi Sosialis Komunisnya ternyata runtuh pada tahun 1989 oleh kebijakan Glasnot dan Perestroika. Kebijakan yang akhirnya meracuni Soviet dengan Kapitalisme, bahkan mengembalikan nama negaranya ke masa ketika dinasti Romanov masih berdiri (dari Soviet kembali menjadi Rusia).

 

Influence revolusi Bolsevik terhadap dunia memiliki arti penting di berbagai macam pergerakan kemerdekaan nasional dunia. Di Indonesia revolusi Boshevik (dan ajarannya) memberi inspirasi besar untuk memerdekakan Indonesia dari kolonialisme Kapitalis. Komunisme masuk melalui tangan Sneevliet, kemudian berubah menjadi Partai Komunis Indonesia, kemudian masuk menginfiltrasi Syarekat Islam dan membelahnya menjadi dua (SI merah dan SI putih). Karena kooptasi ide komunis akan revolusi itu, pemberontakan petani di Banten terjadi, kemudian terus menerus berlangsung dari mulai pemberontakan 1948 di Madiun, rencana kudeta 1965 G30/S/PKI hingga kemunculan Partai Rakyat Demokratik sebagai musuh pemerintah pasca peyerbuan kantor PDI pada 27 Juli 1996.

 

Di China, revolusi Komunis Bolshevik menginspirasi Mao Tse Tsung untuk memimpin long march (tanpa tandingan kecuali oleh Hanibal) sejauh 9600 km (untuk memasifkan kekuatan melawan Jepang dan Chiang Kai Sek); Ho Chi Minh pun mendapat inspirasi revolusi Bolshevik di Vietnam. Di Siera Maestra, Revolusi Komunisme Bolshevik memainkan peranan sebagai ruh pergerakan revolusioner bagi penghisap tembakau nomor wahid (Fidel Castro) dan sahabat ganteng mautnya, si penderita bengek kronis: Che Guevara.

 

Tidak hanya dalam tataran politik praktis, bagi para seniman, ternyata revolusi Komunis Bolshevik membantu mengukuhkan realisme sosial sebagai seni yang berpihak pada proletar. Tokoh yang terkenal sebagai pengusung realisme social di Indonesia adalah Affandi, dan sastrawan gaek yang baru saja meninggal (Pramudya Ananta Toer). Sementara, –dikalangan musisi anyar–, yang paling bangga dengan ide revolusi Komunis Bolshevik, setelah De La Rocha (vokalis RATM) menggabungkan diri dengan ELZN) adalah Chris Martin (pengaransemen plus pencipta lirik filosofisnya Cold Play).

 

Revolusi Islam

Yang membedakan Islam dengan agama lain, –salah satu diantaranya– adalah bulatan penuh, –yang jika bulatan itu– dibagi menjadi dua, maka terdiri dari ideologi politik dan konsepsi tentang spiritual.

 

Jika agama lain memiliki konsep ibadah (spiritual) tanpa konsep ideologi politik, maka agama lainnya tidak berbentuk bulatan utuh, melainkan setengah bulatan seperti biskuit yang dicelupkan ke dalam susu kemudian dimakan si upik. Demikian juga ideologi yang melandasi kedua revolusi besar yang sudah saya paparkan.

 

Komunis dan Kapitalis memiliki ideologi untuk mengatur kehidupan bermasyarakat, tetapi keduanya tidak memiliki konsep ritual ibadah. Karenanya dalam kedua ideologi tadi, tak jarang ada yang mengambil agama untuk menentramkan hati menggunakan ritualnya (meski kedua ideologi tadi saling bertabrakan dengan agama yang dianutnya).

 

Kelengkapan Islam sebagai sebuah bulatan utuh. Islam bukan saja memiliki konsep ibadah spiritual melainkan ideologi ‘baru’ yang juga, mengguncangkan zaman. Karena konsep bulatan sempurna inilah, ketika Muhammad SAW muncul dan mengumandangkan kenabiannya, gegerlah seluruh jazirah Arabia! Muncullah revolusi langit pertama dan utama!

 

Revolusi Islam dengan muatan ideology yang dibawa Muhammad SAW, menjungkirbalikan seluruh sistem peribadatan, dan nilai yang ada. Islam muncul untuk mematahkan penyembahan berhala dan menggantikannya dengan tuhan yang benar-benar tuhan semesta alam.

Islam muncul dengan sebuah celaan terhadap kapitalis-kapitalis kecil bangsa Arab. Siapa Kapitalis itu? adalah orang yang kerap curang dalam timbangan perniagaan, orang yang mendapatkan harta dari riba dan perdagangan yang haram, juga kerap kali mencaci maki anak yatim dan fakir miskin. Itu di Makkah, dan di Madinah terjadi revolusi Islam yang dipimpin langsung oleh Muhammad SAW.

 

Saat itu Islam muncul sebagai kekuatan revolusioner yang menghapuskan ikatan kesukuan yang sudah berakar lama di jazirah Arabia, ikatan yang membuat antar suku jazirah Arab terus berseteru, karena budaya vendetta5) merupakan budaya yang mengikat antara anggota suku dengan ikatan kesukuannya. Islam menyatukan agama, suku, bahkan bangsa (bukankah Salman dari Persia, Bilal dari Ethiophia?) di bawah kekuasaan sistem pemerintahannya6).

Islam mengawali dengan contoh sempurna sepanjang zaman. Mengawalinya dengan kepemimpinan manusia yang sebenarnya mampu untuk bermegah seperti raja-raja Romawi dan Persi, namun pemimpin berar revolusinya, lebih memilih tidur beralas tikar hingga gerat-gerat tikar tercetak pada kulitnya, dan lebih memilih mengkonsumsi minyak samin dan roti buruk rupa dalam kesehariannya?. Ia memilih untuk tinggal di kediaman mungil yang temboknya terbuat dari lumpur.

 

Apa yang dilakukan Muhammad benar-benar revolusioner. Ia membuat orang-orang berdecak kagum. Membuat pemimpin besar dan sejarawan –entah yang membenci atau mengaguminya–, melongo. Bagaimana tidak? lelaki mulia itu, dengan sistem dan kekuasaan yang ada ditangannya, ternyata memilih untuk bersikap rendah hati, sabar, lapang hati, mempraktikan keikhlasan tingkat tinggi, bahkan kebeningan spiritualitas yang tidak bisa ditandingi.

 

Revolusi dan semangat yang ada di dalam ajaranya benar-benar revolusioner, artinya sama sekali berbeda dengan konsepsi agama atau spiritualisme lainnya. Diluar Islam, di dalam agama lain seperti Budha Hindu, Kristen, kekuasaan haruslah dipisahkan dari keberagamaan pemuka agamanya. Karena, agama tersebut menganggap, bahwa kekuasaan (dunia) tidak bisa disatuka dengan spiritualisme (akhirat).

 

Zarathustra bisa saja menjadi orang bestari, Dalai Lama, okelah menjadi orang bijak, demikian pula orang-orang yang dianggap Santo, tapi bisakah mereka menjadi orang yang bijak bestari, berkadar spiritual tinggi, memiliki keteduhan pandang dan kebeningan hati ketika memegang tampuk kekuasaan?

 

Wajar saja orang-orang besar dunia itu terlihat mapan kondisi spiritualitasnya, sebab kehidupan mereka hanya terpaku pada kehidupan mengasah ‘spiritualisme’. Hidupnya hanya berkisar berkunjung dari satu biara-kebiara, satu tempat peribadatan ke tempat peribadatan, menyepi bertapa dan semedhi. Tapi Muhammad SAW tetap berwajah teduh, memiliki kebeningan hati nan cemerlang meski ia memegang tampuk kekuasaan. Apa sebab? sebabnya ide yang inheren di dalam revolusi itu sendiri!

 

Di dalam Islam kekuasaan politik tidak bisa dipisahkan dari spiritual. Kekuasaan politik berhubungan dengan idraksillahbillah atau kesadaran hubungan seseorang dengan Tuhannya. Tak heran semenjak wafatnya Muhammad SAW, sahabat-sahabat yang dekat dengan ajarannya, menjalankan kekuasaan politik dengan baik dan bijak pula (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan salah satu pengikutnya yang lain: Umar bin Abdul Aziz). Ini semua bisa terjadi, karena inti revolusi Islam berpijak pada kesatuan ideology dan spiritualisme di dalam diri pelaksana system Islam itu sendiri.

 

Jejak revolusi Islam yang memaksa peradaban manusia untuk menoleh padanya, terus menerut memanjang dari dinasti Ummayah hingga Utsmani. Pelaksanaan ideologinya mengalami pasang surut. Mengalami kelurusan dan penyelewengan hingga keruntuhan institusi Khilafah pada tahun 1924.

 

Sayang, kini institusi sistem pemerintahan Islam telah tiada, telah RIP. Namun, kebangkitannya akan selalu menjadi kekuatan yang menakutkan bagi ideologi-ideologi yang pernah dan saat ini menguasai dunia.

 

Kini, melalui jejak-jejak yang masih bisa dirunut keabsahan historis dan dipertanggungjawabkan justifikasi teologinya, tampaknya pergerakan-pergerakan Islam yang memiliki skup internasional mulai memperlihatkan taringnya. Semangat revolusioner untuk mengembalikan revolusi Islam yang otomatis mengembalikan sistem pemerintahan Islam di konstelasi politik dunia, bergema di mana-mana. Gerakan-gerakan ideologis yang semula klandestin kini muncul keatas tanah, mengingatkan manusia akan kejahatan system Kapitalisme dan Komunisme.

 

Ya, gerakan-gerakan Ilam yang faham akan jejak revolusi Muhammad adalah gerakan yang benar-benar menjadikan Islam, sebagai saingan tereberat ideologi sosialis Komunis dan Kapitalis. Di tangan mereka, Islam tidak hanya menjadi ritual belaka, yang bisa dijadikan alat pembenaran Kapitalisme, melainkan sebagai ruh pergerakan yang benar-benar mengancam segala bentuk eksploitasi dan penindasan system buatan manusia!

 

Pertanyaannya, gerakan apa yang bakal mengusung kembali revolusi dan ideology Islam? Aha, tentunya akan sangat banyak. Yang pasti, seorang muslim harus memilihnya, atau setidaknya bersemangat untuk mendukung idenya, sebab usaha mereka, adalah usaha untuk menegakan kembali praktik keimanan dalam bidang politik, yang akan membawa rahmat bagi manusia, galaksi dan seluruh isinya.