Nama motornya sesuai dengan cepatnya kejadian yang saya rasakan: Thunder. Ya, seperti halilintar motor itu menghantam knalpot motor yang saya pinjam dari seorang kawan. Akibatnya,

Kaki kiri saya lebam di tabrak ban, sementara kulit kanan mengelupas berdarah digerus aspal, saya langsung menemui pria yang menabrak motor yang kami pinjam. Saya melihat kakinya bengkak. Sebelum saya sampai di hadapannya, ia sudah menuding. “Mas ini bagaimana?! Kok belok tiba-tiba!” protesnya sengit.

 

Sebenarnya saya sudah menyalakan lampu motor, tetapi saya lupa apakah saya berbelok tiba-tiba atau tidak. Karenanya, saya hanya diam. Saya memilih untuk tidak berargumentasi. Saya meminta maaf, padanya. Saya bertanggung jawab dengan tak membantah apapun perkataan pria itu, meski bisa jadi dia pun salah: motornya terlalu cepat, atau dia sedang melamun dan beraneka macam kemungkinan lainnya untuk meringankan tanggung jawab menjadi tanggung jawab bersama.

Tetapi itu hanya bisa jadi. Kemungkinan bahwa dia salah bukanlah sebuah kebenaran. Kemungkinan tentunya berbeda dengan kebenaran.

 

Saya tidak mau menyalahkan orang. Dan entah karena diam itu wajah lelaki itu melunak. Saya memberikan tisu basah untuk membersihkan lukanya. Ada keikhlasan tampak di wajah dan matanya.

 

Singkat kata, kami pun saling meminta maaf. Ia mengikhlaskan kejadian itu. Dan setelah ia pun pergi setelah saya memberinya kartu nama. “Kalau ada apa-apa tolong hubungi saya.

 

Cerita ini masih berlanjut, ketika saya tengah mengemas pakaian dan barang, pria itu pun mengirimkan short message pada saya. “Mas bisa datang ke tempat saya? Maaf karena saya harus ke Sangkal Putung. Kaki saya retak.”

 

Saya terhenyak, sebab saya harus segera meninggalkan Malang. Dengan menyesal kemudian saya memberitahukan bahwa Di Malang, saya tengah berlibur. Waktu cuti saya habis, dan malam ini saya harus pulang. Sebagai bentuk tanggung jawab saya pun mentrasfer uang kepadanya. Tak hanya itu saja, saya pun menguras atm untuk mengganti kerusakan motor yang saya pinjam.

 

Dalam liburan itu saya akhirnya mengeluarkan biaya yang sangat tak terduga. Di bulan Oktober ini akhirnya saya hanya memiliki beberapa ratus ribu untuk bertahan karena tabungan yang sayangnya tidak bisa diuangkan segera dalam bentuk uang. “saya mendadak jatuh miskin,” Saya pun mengatakan dalam hati dengan optimis bahwa, “Kita masih memiliki kesehatan dan akal. “Bukan hanya itu,”. “Kita tidak hanya memiliki kesehatan dan akal, tetapi kita memiliki Allah.”

***

Saat memandangi kota Malang dari balik jendela bis malam, saya bersyukur. Kami tak merasa rugi atas apa yang saya tanggung. saya telah membelanjakan uang  dengan sesuatu yang luar biasa. saya menguras tabungan untuk membeli makanan immaterial immaterial bagi nurani. Kami membelanjakan uang untuk membeli makanan bagi nurani. saya tak pernah merugi. saya merasa semakin kaya.

Dan cerita itu hanyalah sebuah awalan.

***

Dalam sebuah kisah yang pernah saya baca, di masa para sahabat Rasul, ada seorang lelaki yang diajukan ke pengadilan karena melakukan pembunuhan. Untuk menegakan order, maka sang pembunuh kemudian dijatuhi hukuman mati dan sebelum hukuman mati dilaksanakan sang hakim pengadilan memberikan sang terdakwa untuk mengajukan keinginan terakhirnya.

 

Lelaki yang bersalah itu kemudian meminta izin untuk pamit kepada keluarganya, dan sang hakim pun mengizinkan, setelah sebelumnya member perintah pada pria itu untuk kembali pada hari eksekusi. Setelah menyetujui sang terdakwa pergi –entah mengapa– tanpa kawalan.

 

Waktu berlalu, ketika hari eksekusi tiba, masyarakat dan sanak kerabat yang ditinggalkan menanti datangnya sang terdakwa. Mereka berpikir pria itu akan melarikan diri. Maka munculah teriakan-teriakan yang menyalahkan sang hakim atas tidakan gegabahnya (membiarkan sang terdakwa tanpa kawalan). Akan tetapi teriakan itu mereda sebab di menit menit terakhir sebelum eksekusi dilaksanakan, sang terdakwa datang dengan ketabahan. Pembunuh itu datang dengan keberanian yang bersumber dari pertanggungjawaban.

Masyarakat, hakim, sanak kerabat pria yang terbunuhpun mendecakkan lidahnya. Mereka terkagum-kagum atas bentuk pertanggung jawaban yang dilakukan sang pembunuh. Dan cerita ini berakhir mengharukan karena ketika eksekusi akan dilaksanakan, keluarga yang terbunuh berdiri, mereka bersepakat untuk mengampuni sang pembunuh.

 

***

Cara pandang manusia dibentuk oleh lingkungan meski pada dasarnya pertanggung jawaban harus diserahkan secara eksistensialis pada individu, karena apa yang masuk dan mempengaruhi cara pandang kita tergantung didiri kita sendiri. Alhamdulillah saya di bimbing oleh keluarga yang baik, dibimbing oleh bacaan-bacaan yang memperkenalkan saya akan bentuk tanggung jawab entah dari rasulullah, kisah para sahabat yang mulia, penjelajahan Old Shatterhand dalam Winnetou atau Karabennemsi, atau bahkan melalui filsafat eksistensialisme yang di paparkan oleh Kierkegaard atau bahkan Nietzche. Beruntung pulalah kita yang sudah mampu melakukan salah satu tahapan terkecil dalam melakukan pencarian terhadapan kebenaran.

 

Dalam buku-bukunya Thabatabai dan Khomainiy, juga Murtadha acap menyatakan bahwa pencarian kebenaran harus diawali dengan pesucian jiwa. Jiwa harus dibersihkan dari unsur-unsur yang menghalangi cahaya. Jiwa yang tercemar oleh kesombongan dan kedengkian harus di bilas, dicuci. Dan ketidak mauan seseorang untuk bertanggung jawab adalah kekotoran yang menghalangi kebenaran. Karena ketidakmauan untuk bertanggung-jawab itu berasal dari kesombongan untuk tidak mengakui bahwa kebenaran sudah datang di hadapan hati dan pikiran seseorang, tetapi seseorang itu menafikannya, seseorang berlari menjauhi padahal nurani dia selalu memanggilnya untuk kembali.

 

Ketidakmauan untuk bertanggung jawab akan merugikan siapapun juga yang mempraktikannya. Dan hal ini langsung saya rasakan di bis Malam yang mengantarkan saya pulang. Puluhan penumpang sebuah bis malam jurusan Malang- Jogja kecewa, karena staff bus eksekutifnya tidak mau bertanggung jawab bahkan untuk meminta maaf setelah kenyamanan kami terganggu oleh air ac yang bocor di kursi lima orang penumpang, serta toilet yang baunya sangat menyengat juga atas mesin mogok yang terjadi tiga kali.

 

Ketidakmauan untuk bertanggung jawab, meminta maaf staff bus itu sungguh mengecewakan sehingga beberapa penumpang mengatakan dengan suara yang keras, “cukup sekali saja naik bus ini!” Saya yang sudah tiga kali naik bus ini pun kecewa karena selama ini tidak terjadi perbaikan oleh management. Tidak ada pembelajaran berarti sebagai bukti tanggung jawab yang dilakukan.

 

Maka bayangkan puluhan orang yang sudah mempersaksikan diri untuk tidak menumpangi bus tersebut akan berbicara-mempromosikan keburukan pelayanan bus tersebut, sedangkan sebuah teori mengungkapkan bahwa pelayanan baik hanya akan dipromosikan kehadapan 3 orang sementara pelayanan buruk orang. Bayangkan bagaimana bentuk tanggung jawab memiliki korelasi terhadap perusahaan atau bisnis yang kita kembangkan.

 

Bagi sebuah perusahaan tanggung jawab adalah sesuatu yang harus menjadi core value. Apabila dalam sebuah perusahaan berkumpul individu-individu yang tidak bertanggung jawab maka tunggulah kehancurannya.

 

Ingatlah sebuah kalimat mulia yang mengatakan bahwa sejarah akan dipergilirkan. Manusia-manusia yang uncivilized akan digantikan oleh masyarakat baru yang mulia. Dan salah satu bentuk kemuliaan adalah bentuk pertanggungjawaban. Hanya individu, masyarakat, perusahaan, dan negara yang memiliki penduduk mulia sajalah yang mampu menjalani ‘evolusi’. Pertanyaan pamungkas sebelum saya menutup tulisan ini, ialah, maukah, maukah kita melakukan evolusi jiwa dengan bertanggung jawab terhadap apa yang kita perbuat?