Sewaktu kecil, saya bercita-cita menjadi seorang ilmuwan. Saya ingin memiliki laboratorium pribadi, lengkap dengan aneka tabung reaksi yang berisi cairan aneh warna-warni dengan asap membumbung memenuhi udara dan mikroskop berkekuatan tinggi. Alasannya sederhana, yaitu karena para jagoan dalam komik-komik Marvel yang saya koleksi adalah ilmuwan. Bruce Wayne seorang ilmuwan, begitu juga Peter Parker. Ketika “berkenalan” dengan Sherlock Holmes di kelas lima SD, semakin kuatlah keinginan itu. Anak kecil memang suka begitu. Rasanya begitu penting untuk mengidentikkan diri dengan sesuatu atau seseorang. Kita sering melihat seorang gadis cilik bermain ibu-ibuan atau anak lelaki tetangga yang bertingkah seperti jagoan Power Rangers setiap bangun tidur. Saya tidak tahu pasti, tapi yang menyenangkan dari khayalan itu adalah kita bebas menjadi tokoh utamanya. Sang pembela kebenaran dan keadilan. Si sempurna yang kuat dan pemberani. Setelah dewasa, khayalan serba sempurna itu kian sempit. Realitas di hadapan mengerat-ngeratnya sedemikian rupa lewat berbagai pilihan yang harus kita ambil, bukan semata-mata yang ingin. Identitas pun terbentuk dari situ.

Ketika kita telah memilih identitas dan dengan berani mengatakan “saya adalah ……,” kita telah memilih apa yang menjadi bagian dari saya dan mencegah masuknya berbagai hal yang bukan bagian dari saya. Dan itu bukannya tanpa konsekuensi. Identitas kita di masa kini sering berperan sebagai peluruh mimpi dan khayal di masa kecil. Kadang mengecewakan. Akui saja kalau kita kadang naif dengan menganggap keterbatasan sebagai kekurangan.

Tapi ada saja orang-orang yang masih enggan melepas celoteh masa kecilnya. Bukan yang berbentuk harapan atau sebentuk optimisme, melainkan sebentuk pandangan akan diri sendiri yang kelewat sempurna. Setiap orang memang memiliki identitas, perlu. Sekedar untuk menjaga unik dan beda dari orang lain. Tapi jika identitas kemudian cuma difungsikan sebagai “pakaian” untuk dapat menunjuk orang lain sebagai begini atau begitu, tanpa alasan yang dapat dibenarkan—hanya karena tidak memiliki pakaian yang sama, misalnya—saya kira saat itu identitas dapat berubah menjadi alat pembunuh yang berbahaya.

Apa yang dilakukan Robinson Crusoe terhadap Friday ketika ia memberikan identitas pada orang primitif itu, mungkin tidak jauh dari itu. Defoe menuliskannya demikian: “At last, he lay his head flat upon the ground, close to my foot, and set my foot upon his head, as he had done before; and after this made all the signs to me of subjection, servitude, and submission imaginable, to let me know he would serve me as long as he lived. I understood him in many things, and let him know I was  very well pleased with him. In a little time I began to speak and teach him to speak to me; and, first I let him know his name should be FRIDAY, which was the day I saved his life: I called him so for the memory of the time. I likewise taught him to say Master; and then let him know that was to be my name…”.2

Sepatah kata atau sepotong bunyi kemudian menarik garis tegas antara satu manusia dengan manusia lain. Garis tegas yang kaku yang terkadang sukar ditembus dan dilewati. Kita sering menganggap setiap elemen “kita” adalah kesatuan solid yang superior, sedangkan “mereka” adalah yang inferior dan serba kurang. Tidak sedikit konflik dan cedera hati timbul karena itu. Paling tidak, itu akan merusak kesempurnaan akhlak.

Sebuah percakapan pernah terjalin di suatu siang antara saya dengan seorang teman:

“………Iya tuh, Dek, saya nggak kaget sih. Teman saya kan memang orang yang begitu.”

“Begitu bagaimana?,” saya bertanya.

“Ya… aneh.”

“Kupingnya enam; kakinya tujuh belas, begitu?”

“Bukan. Adek ini, maksud saya, dia agak nge-punk gitu loh.”

“Memangnya kenapa kalau nge-punk?”

“Yaa…. tau sendirilah. Dia ‘kan nggak mengkaji (Islam, -Sgrs).”

“Memangnya autoritas apa yang diberikan sebuah kajian sampai kita berhak merasa lebih baik dari orang lain?”

“Adeeek…… saya benci kamu!” ujarnya sambil melenguhkan suara pertahanan diri.

“Saya suka dibenci Kakak. Artinya saya diingat.”

“Nih, saya beri tahu lebihnya, ya, kita lebih baik karena mengetahui sesuatu yang dia belum tahu,” kata teman saya itu dengan bersemangat.

“Mungkin dia belum mengetahui apa yang kita ketahui, tapi apakah kita pun mengetahui apa yang sudah dia ketahui?”

“Kamu tuh, ya.”

Saya cengar-cengir menetralkan kejengkelannya. Kami pun membahas hal lain.

Tapi pembicaraan di siang itu telanjur menjadi ingatan.

Apakah itu memang salah satu sifat alami manusia untuk merasa bahwa dirinya lebih baik dari orang lain seperti halnya—setiap orang merasa dirinya tampan atau cantik, bahkan mereka yang paling, maaf, jelek sekalipun? Mungkin, saya pikir. Sebagai sebuah fakultas berpikir, manusia disebut sebagai sebaik-baik makhluk yang diciptakanNya. Sebutan yang, apabila ditanggapi dengan kedangkalan berpikir, sangat mungkin melahirkan kepongahan.3 Sebagai satu-satunya yang mampu berpikir, manusia kemudian memutuskan bahwa fakultas lain tidaklah sepenting dirinya. Sebuah anggapan yang tidak akan lahir kecuali jika manusia telah menganggap dirinya terpisah dari alam semesta. Lalu mendefinisikan manusia sebagai “kita”, si aktif, dan alam semesta sebagai “mereka” yang pasif. Maka kita dapat saksikan ketidakadilan manusia terhadap alam. Terhadap gunung, lautan, hutan, udara, ozon, isi perut bumi, and so on, and so on. Kejahatan ini pun akhirnya dilakukan juga kepada manusia lain, karena, biar bagaimanapun, kita harus akui bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta. Dengan demikian, politik identitas yang kita lakukan dapat terlihat begitu rentan terhadap perlukaan, bahkan pemusnahan.

Terdapat hubungan “kita-mereka” antara orang Indonesia dengan orang Irak, terdapat hubungan “kita-mereka” antara orang Jawa dengan orang Irian, juga terdapat hubungan “kita-mereka” antara manajer dengan bawahan, dan antara seorang aktivis masjid dengan anak punk. Jeleknya adalah, pembedaan itu hanya berdasarkan simbol-simbol yang melekat, yang mudah ditangkap mata tapi justru seringkali membuat kita malas untuk menelusurinya lebih jauh. Sehingga rasanya sah saja menganggap orang yang berkerudung panjang lebih baik daripada yang berkerudung kecil bahkan yang mencekik leher, misalnya; atau sah saja menganggap ikhwan kelimis yang rapi jali lebih baik daripada yang kemana-mana selalu bergaya bohemian; juga rasanya sah jika seorang koordinator acara di sebuah kepanitiaan berpikir karena dirinyalah acara bisa sukses. Sedangkan rezeki tiap orang berbeda. Sedangkan setiap kita memiliki pengalaman dan kembara pemikiran masing-masing. Sedangkan masa lalu tiap orang memang tak sama. Sedangkan hidup itu sendiri adalah sebuah “proses menjadi” yang tak berkesudahan sampai kita mati.

Saya percaya ada sengatan kecamuk di kepala setiap perempuan yang memutuskan akan berkerudung, selemah apa pun kecamuk itu dan seminim apa pun bahan kerudung yang dipilihnya. Sebuah kembara pemikiran tersendiri, pengalaman batin yang alami, yang layak dihargai. Jika pun kita hendak membenahi pemahaman mereka tentang kerudung, apakah tidak sebaiknya kita buang dulu pikiran-kita-lebih-baik-dari-mereka-karena-kerudung-kita-lebih- panjang? Siapa tahu, hanya aturan tentang kerudung saja yang belum diketahuinya, sementara ia lebih banyak tahu tentang ribuan hal yang bahkan memikirkannya pun kita tidak pernah. Begitu pun tentang seorang anak punk, siapa tahu dia lebih banyak bersujud di malam-malam yang justru kita sedang asyik terlelap. Siapa tahu ia telah melakukan satu amalan yang akan langsung membawanya ke surga sedangkan kita terlempar ke neraka karena keangkuhan. Sesungguhnya kita tak pernah tahu. Siapa tahu penampilan nyeleneh hanyalah sekedar upaya mereka untuk punya perwajahan tunggal di tengah dunia yang dipenuhi bentuk-bentuk. Siapa tahu, satu, lima, sepuluh tahun yang akan datang justru kita dapati diri sedang berada di majelis ilmu yang dipimpinnya. Ia duduk anggun di mimbar, setetes air wudhu menggantung lembut di ujung rambutnya, dan ia mengatakan, “yaa ayyuhal ladzina aamanu……..” Ah, siapa tahu?