Pembebasan dari apa? Ya dari tiran yang berusaha mengalihkan penyembahan pada Allah menuju berhala-berhala yang muncul dalam aturan-aturan yang pengaplikasiannya bukan lagi brutal tetapi kanibal.

Kali ini, aku hanya akan bilang bahwa Hizbut Tahrir adalah sebuah gerakan yang meletakan pegas di kakiku, sebuah gerakan yang menjadi trampolin yang melontarkan diriku untuk melihat banyak hal.

Kenapa kukatakan begitu? Karena dulu, aku adalah orang yang bahkan tak mengenal arti ideologi. Jika kau kurang nyaman dengan ideologi ok, aku akan mengganti term itu dengan struktur. Karena dulu, aku hanya mengetahui fungsi sebuah struktur sebatas ecapan. Bahwa struktur itu penting (Anak SMA macam mana yang tak mengetahui hal itu), tetapi mengenai pemahaman apa itu struktur dan bagaimana kau menerapkan makna struktur itu di dalam kehidupan –dulu– aku tak bisa.

Pembimbingku mengatakan bahwa Ideologi adalah sebuah pemahaman mendasar, yang diatasnya dibangun aneka macam ranting pemikiran, dan jika diibaratkan dengan tubuh, ideologi memiliki anti bodi dan mampu mengembangkan antibodi itu untuk menggempur unsur-unsur atau virus penyakit yang bakal merugikan tubuh.

Di sana, aku pun mempelajari bagaimana membentuk sebuah partai politik dan menata masyarakat. HT, mengajarkan hal itu pada pengkaji dan anggota-anggotanya melalui pembelajaran terhadap perjalanan Rasulullah yang diperas oleh kecerdasan logika Annabhani (pendiri HT).

Orang-orang mungkin tak memahami apa pentingnya mempelajari hal itu. Kalau yang sedikit mengerti, katanya, ya untuk mendirikan partai politik. Kupikir bukan sekedar itu. Dengan membaca, mendiskusikan bagaimana mendirikan sebuah partai politik, sadar atau tidak tengah — para pembimbing—tengah mengajarkan sosiologi. Dan berbicara sosiologi bukan berarti hanya mengingatkan tentang hapalan-hapalan yang kau jinjing sebagai beban saat kau masih dibangku kuliah atau SMA.

Mempelajari hal itu adalah mempelajari struktur yang ada di masyarakat, dari struktur itu kita bisa mengelompokkan kelas-kelas yang ada. Kita bisa melihat siapa yang senantiasa bergerak dan siapa yang bisa digerakkan dan bagaimana cara melakukan propaganda dan infiltrasi ide yang efektif.

Orang-zaman dahulu kesulitan untuk merubah sebuah bangsa atau masyarakat tetapi sosiologi mewartakan bahwa masyarakat memiliki pemangku adat, masyarakat memiliki klas pemikir dan klas organisatoris yang isi kepalanya adalah sebuah representasi kepala masyarakat.
Jika ide kita bertentangan dengan masyarakat, maka dalam keadaan normal hal yang paling efektif adalah mempengaruhi lebih dulu gate keeper-nya, pemangku informasi juga kelas yang berkuasanya.

Itulah mengapa Bruce Parry seorang antropolog BBC melakukan kontak dengan kepala suku kanibal di sekitar pegunungan Mandala, dan itu pulalah yang menjadi jawaban mengapa kolonialisme lebih dulu ‘menundukkan’ pemangku adat Nusantara sebelum melakukan penjajahan, atau menjadi alasan mengapa ketika seorang kepala adat Papua masuk Kristen maka berbondong-bondong pulalah masyarakat masuk ke dalam sungai atau mandi di pinggir lautan untuk dibaptis.

Hal ini (melakukan pendekatan pada gate keeper) sebenarnya menjadi hal yang naluriah bagi orang-orang besar –dan tidak menjadi sebuah ilmu bagi mereka, tetapi mereka mempraktikannya.
Sosiologi kemudian datang dan merangkum hal itu, membagi-bagi masyarakat ke dalam sebuah struktur agar lebih mudah dipelajari. Jika di zaman Victoria atau zaman VOC –misalnya– pengetahuan ini ditujukan sebagai analisa awal sebelum ekspansi dilakukan, maka di zaman ini sosiologi bisa dimasukan kedalam departemen business development atau marketing development sebuah perusahaan sebelum melakukan ekspansi pasar besar-besaran.
HT merumuskan, mengajarkan, bahkan mempraktikkan konsepsi sosiologi kenabian untuk melakukan perubahan besar atas masyarakat. Karenanya, –kusepakati dengan seorang sahabat– bahwa se-ekstrim-ekstrimnya An Nabhani menolak sosiologi dalam buku Fikrul Islam dan lainnya, ia adalah sosok sosiolog besar Islam.
Sayangnya kalangan akademis secara tidak sadar malah memisahkan dia sebagai tokoh pergerakan Islam tok entah bagaimana skema-nya.

Sayang-disayang adalah sebuah penyakit, karenanya mari tinggalkan sayang disayang itu, karena –tak peduli Annabhani akan diangkat atau tidak sebagai sosiolog– HT memberiku banyak hal. HT bahkan memasukan sebuah struktur berpikir kepada masyarakat dengan menggunakan cara-cara yang cerdas di luar kesadaran pembacanya.

Melalui buletin al Islam secara tidak langsung masyarakat diajarkan untuk berpikir terstruktur. Coba buka tulisan al Islam jika perlu lima tahun kebelakangan ini. Di dalam tulisannya kau bisa membedahnya menjadi tiga bagian: fakta, analisa dan solusi (hal ini tentu berbeda dengan kebanyakan essay) Belajar berpikir secara sistematis, terstruktur menjadi penting, karena kita dikepung oleh banyak buku saat ini. Kita bahkan bisa menemukan membaca buku-buku di toko yang sebelumnya tidak mengizinkan kita untuk –bahkan membuka– sampul plastiknya.

Perpustakaan yang keren-keren sudah menjamur, dan sialnya anggapan bahwa dengan membaca berbagai macam buku kau akan menjadi pintar masih tetap tidak berubah hingga saat ini. Padahal, anggapan seperti itu belum tentu benar.
Aku melihat, menemui orang yang banyak membaca buku, pikirannya malah acak-acakan tak karuan, tak memiliki pangkal, tak ada muara. Pikirannya seolah-olah taman labirin Ashcombe, komentar-komentarnya tak memiliki logika tertata dan hanya terkesan sporadis dalam menyikapi banyak bentuk-bentuk makna.

Contohnya, dulu aku melahap apa saja, buku Pram, N.H Dini, Prahara Budaya, Ensiklopedia, Ahmad Wahib, buku-buku dari Insist, Teplok Pers, Chomsky, dan lain sebagainya. Semuanya masuk ke dalam pikiranku. Tetapi hasil bacaan itu tak benar-benar merombak kehidupan.

Jika aku bisa memaknai hal-hal yang atomik dalam kehidupan, bagaimana menjalin relasi, bagaimana menemukan hikmah, bagaimana dan bagaimana lainnya, mungkin iya. Tapi pada saat itu aku belum bisa melakukan analisa besar terhadap sebuah permasalahan, aku hanya melihat fenomena, melihat fakta, mungkin menggali neumena, tetapi tidak mengumpulkan seluruh neumena untuk menghasilkan sebuah gambaran yang saat ini kulihat adalah gambaran peperangan.

Sebuah contoh yang baik dari Crash, sebuah film yang pernah mendapatkan banyak Oscar, bahwa segala sesuatu, seribu satu macam fragmen harus dilihat secara utuh sebagai sebuah dasar kesimpulan. Demikian pula film Syriana yang mengambil tag, everything is connected. Dan Ali Syariati, –betapapun aku tak begitu mengidolakannya—mewariskan ungkapan bahwa orang yang banyak membaca buku tetapi ia tak memiliki ideologi, –maaf maksudku struktur– ibarat seseorang ingin membangun kediaman tetapi ia hanya mengumpulkan batu-bata dan perkakas lainnya tanpa ia memiliki atap dan konsep dasar pembangunan sebuah rumah.
Sebanyak apapun kau membaca tetapi kalau kau tak memiliki struktur maka kau hanyalah ensiklopedi berjalan, kau hanyalah manusia penghafal yang tak mengetahui apa yang bisa dilakukan dengan hafalan itu.

***

Beberapa puluh tahun lalu seorang Duta Besar Amerika pernah berkata ketika Ahmad Wahib bertanya mengapa Nurcholis Madjid di kirim ke Amerika.

Agar dia melihat negeri kami, katanya. melihat Negara dan peradaban yang dibencinya.
Sepulangnya dari Amerika, apa yang benar-benar diyakini oleh Duta Besar itu terbukti. Nurcholis yang semula radikal berhasil di pertaubatkan, di baptis.

Muslim yang tidak memiliki struktur berpikir, ketika di kirim ke luar negeri (biasanya lulusan pesantren) bukan hanya akan mengalami gegar budaya, melainkan geger otak akidah terutama akidah yang terkait permasalahan inilhukmu illa lillah bahwa hanya Allahlah yang memiliki hak preogatif membuat hukum. Sebab, ketika para dai mengumandangkan propaganda syariat Islam dengan segala macam iming iming pemerataan dan distribusi keadilan, pengaturan yang baik, maka Eropa, Prancis, Inggris, Jepang, Korea Selatan secara general telah menjalankannya, meski pengaturan yang baik itu salah satunya bersumber dari pajak yang memberatkan seperti yang dikatakan Anggun si ‘Snow in Sahara’ (mengenai Perancis), atau pajak prostitusi, pabrik minuman keras, pajak properti serta industri atau bahkan eksploitasi.

Aku –pribadi– memang belum pernah pergi berpetualang ke Amerika, New Zealand, England atau apalah. Tetapi, melalui NatGeo, BBC Chanel dan Discovery, juga dari bacaan dan kisah-kisah keluarga ataupun teman teman dan para cendikia, aku menjadi benar-benar mengagumi Barat. Mengagumi bagaimana isu-isu terbaru selalu diiringi dengan pembuatan kebijakan diiringi dengan dengan tools implementasi monitoring dan evaluasi.
Pada saat Inconvienence Truth-nya Al Gore menjadi bola salju yang menggulirkan isu green project, kalangan swasta kemudian berkemas untuk melakukan peralihan, bagaimana mereduksi kadar CO2, menciptakan tips bagaimana mereduksi energi sebelum beralih pada sumber energi yang lebih ramah, bagaimana mereka mengelola lahan, sanitasi, sistem transportasi yang rumit, perkawinan antara senjata dengan teknologi satelit, bagaimana swasta dan pemerintah menghargai ilmuwan, bagaimana tunjangan sosial diberlakukan, keserasian alam antara alam liar dengan industri di Kanada, atau melihat langsung cepatnya MagLev kereta tercepat yang mengambang secara magnetis 10 cm di atas relnya di Jepang, pengolahan limbah dan sehatnya lingkungan di German, sistem penyimpanan arsip di Vatikan dan universitas besar dunia, tingkat kedisiplinan Jepang yang merupakan implementasi loyalitas menyerupai agama serta keajaiban-keajaiban lainnya. Aku terkagum-kagum.

Nah, apapun itu, mereka (peradaban ‘Barat’) telah berhasil melakukan pengelolaan dan distribusi yang baik meski di bawah doktrin Liberalisme. Kalaupun, saat ini negeri-negeri yang mayoritasnya berpenduduk muslim melakukan hal seperti itu (menarik pajak dari tempat-tempat yang tak jelas), yang merebak bukan keadilan tetapi penyimpangan pendapatan Negara dan korupsi. Ya, seperti Indonesia ini. Nah, ketika tata pemerintahan ingin kita buat, ingin kita tampilkan, sedang kita usahakan hingga serak, hingga keringat kita dan tubuh kita letih, ternyata barat yang kita benci itu telah menunjukkannya dengan sangat cantik.

Aku terpana-terkagum-kagum. Kita, aku, Kamu, kaum muslimin jauh tertinggal secara teknik. Kalah bagaikan kesebelasan Persija melawan Manchaster United. Kejayaan material kita di masa lalu ibarat membandingkan antara anak SD Pulo Armin dengan Mahasiswa yang kuliah di Sorbonne atau Harvard.

Hasil Renaissance, hasil revolusi dan kudeta berabad-abad di Eropa muncul menjadi gemilang, seperti batu yang diasah menjadi intan dan memperlihatkan kecemerlangannya di abad 20.

Akan tetapi, kekaguman itu hanyalah kekaguman belaka, bukan kekaguman yang menghamba, karena aku mengetahui konsep mana hadarah (materi kebudayaan) mana madaniah (pemikiran) mana materi kebudayaan yang terkait nilai-nilai khas pemikiran. Aku bukan Nurcholis atau Azyumardi Azra.

Kirimkan aku ke dunia dimana segala sesuatu berjalan dengan baik tanpa agama. Kirimkan ke sana! Aku mengetahui sejarah. Aku memahami ayat. Aku memiliki keyakinan terstruktur! Perjalanan itu hanya akan menjadi sebuah tamasya belaka.(bolehlah sedikit congkak).

Dalam sebuah acara di kisaran tahun 2004, Aku pernah bertanya pada Ismail Yusanto (juru bicara HTI), apakah kita memiliki jaminan bahwa Kekhilafahan atau sistem pemerintahan Islam akan berjalan lurus-lurus saja, melenggang manis dan sempurna seperti model di atas catwalk sementara yang melaksanakan manusia juga?
Dengan cantiknya ia mengatakan. “Tidak ada jaminan. Sebagaimana saya bertanya apakah Anda itu nyetir mobil. Paling bagus Anda menyetir mobil dengan disiplin, apakah dijamin tidak ada kecelakaan? Hidup itu faktornya bukan hanya kita. Ada jalan yang licin , factor cuaca, factor pengemudi dan lainnya. Meski kita sudah memiliki mobil yang baik, kita adalah pengemudi terlatih tetap saja tidak ada jaminan kecelakaan tidak terjadi. Tetapi saya ingin bertanya lagi, jika tidak ada aturan lalu lintas, mobil Anda tidak memiliki rem, Anda ugal-ugalan, apakah Anda akan selamat, selalu selamat? Lebih tidak ada jaminan. Nah, ketika bicara tentang Kekhilafahan atau system pemerintahan Islam berarti kita sedang bicara tentang mobil yang bagus, orang yang bagus, tata aturan berkendara yang bagus. Kita sedang memenuhi syarat-syarat ini. Syariah memiliki konsep sempurna. Kekhilafahan dan Khilafah itu syarat dasar. Apa setelah itu ada jaminan tidak adanya pelaksanaan yang menyimpang? Tidak ada jaminan. Tetapi kita telah memenuhi syarat-syarat dasar. Dan dengan syarat tersebut jika ada kesalahan mudah. Kecelakaan? O pasti itu bukan mobilnya, aturan dasar berkendaraannya pun sudah sempurna. O itu mungkin karena supirnya atau pasti jalanan licin. Pasti ada sesuatu. Tapi, kalau sekarang?”

Terbayang? Bahwa sistem yang tengah diperjuangkan, sistem yang akan memuliakan bangsa ini, dan insya Allah seluruh umat manusia di dunia berawal dari ‘mobil’ dan ‘aturan yang baik’ karena berasal dari Sang Pemilik pabrik mobil, Pemilik aturan yang canggih, Pemilik yang mengetahui sifat-sifat manusia.

Sudah seharusnya kita benar-benar mempelajari Islam. Memahami bahwa pelaksanaan hukum, pengaturan hidup manusia berdasar sistem Islam merupakan bagian dari akidah, sisi lain dari tauhid, mengetahui mana yang akar (akidah/tauhid) mana yang menjadi cabang atau ranting pemikiran. Melakukan eksplorasi hikmah di dalam ajaran Islam yang luar biasa dan aku mengawalinya dari pemikiran Islam Annabhani.
Cobalah untuk mengecap, hiruplah keindahan sistematika struktur berpikir yang dikaruniai Allah padanya, tapi jangan lupa pula untuk menikmati hidangan yang di sajikan oleh mujtahid lainnya.

Seperti halnya keagungan empat Khalifah besar yang memiliki karakteristik atau kedalaman alam berpikir yang berbeda serta menarik untuk ditelaah satu sama lainnya, dengannya, dengan membandingkan, mempelajari pemikiran para mujtahid, ulama-ulama besar, Kamu akan melihat keagungan Islam dari berbagai perspektif yang segar dan berbeda.
Perkaya hidupmu.