.(ali mufti )

17 Nopember 2009 14:25

“abah! cari aku dong..!” teriak najma, putri sulung saya, yang lagi ngumpet bareng Ayla. “maap ya, mbak…! abah lagi kerja…!” jawab saya tidak beranjak dari depan laptop. “abah..! ayo cari dong…!” teriak najma lagi. “abah lagi sibuk, mbak…! maen ama adek ayla aja ya…?!” saya msh terpasung di depan laptop. tapi lalu selintas muncul pikiran baik saya, saya ingin kasih kejutan bwt putri2 saya.. saya pun keluar ruangan menuju ruang tamu tempat najma dan ayla bersembunyi di balik gordyn. “mana ya mbak najma ama mbak ayla…?! qo ga keliatan…?!” saya pura2 tidak melihat meski mereka nampak jelas ada di balik gordyn, mereka pun tertawa. saya terus mencari di samping mereka dan membuka gordyn tapi tetap pura2 tidak melihat, najma dan ayla semakin keras tertawa, mereka tau bahwa saya pura2 tidak melihat. “abah! aku disini..!” seru ayla, tapi saya msh saja terus mencari sambil pura2 tidak melihat mereka, tawa najma n ayla pun semakin keras.

itulah permainan favorit najma n ayla, main petak umpet tapi yang nyari pura2 tidak tau mangsanya, saya sering mencari najma dan ayla di ketiak mereka atau di kantong  mereka sendiri bahkan mencari di lubang hidung atau mulut mereka sambil bilang “mana ya mbak najma ama mbak ayla…?! qo ga keliatan..?! ngumpet dmn ya..?!”, saya jamin mereka akan tergelak ketika saya melakukan itu dan mereka akan terus berteriak “abah! aku disini!” sampai mata kami saling bertemu baru saya akan mengakui keberadaan mereka, “oh.. ternyata di sini… td abah cari kemana2 ga ketemu…!”. mereka akan meminta saya melakukan permainan itu sekali lagi dan lagi. mereka bahagia.

 

ternyata, mudah sekali membuat anak2 bahagia, tidak perlu dibawa ke dufan atau mekarsari, cukup kita luangkan waktu dan perhatian kita juga sedikit tenaga kemudian mereka pun bahagia. sederhana sekali. namun jujur saya akui, saya sering menolak ajakan anak2 untuk bermain dengan alasan sibuk, padahal saya hanya bekerja di rmh di depan laptop.

 

“abah lagi kerja ya?” tanya ayla putri saya yang berusia 2 tahun jika saya nampak khusyuk di depan laptopp.

 

“iya..”

“cari uang..?”

“iya..”

“bwt beli susu?”

“iya…”

pertanyaan ayla persis seperti yang saya ajarkan. saya mgkn bisa berbahagia karena menganggap anak saya pengertian dengan kesibukkan ayahnya, tapi dari sudut pandang yang berbeda bisa jadi saya sedang mengajarkan ttg pemakluman terhadap anak2 saya, sama seperti pemakluman yang diajarkan pemerintah kepada rakyatnya ketika menaikkan harga BBM, menjadikan kampus sebagai BHMN, melakukan privatisasi BUMN. pemakluman atas suatu ketidakadilan.

 

pernah suatu ketika saat najma yang belum genap 4 tahun menghampiri saya yang sedang khusyuk di depan laptop,

 

“abah lagi kerja ya?!”

 

“iya sayang…” saya jawab tanpa berpaling dari lcd laptop (betapa kejamnya saya)

 

“abah qo kerjanya ga selesei2,sih…?!” ucap najma santai tapi jelas saya menangkap ungkapan itu sebagai protes (kecil2 sudah jadi demonstran).

 

Degh!! saat itu sepertinya ada yang membentur jantung saya, saya sudah sejak pagi di depan laptop hingga sore hari, jadi seharian saya di rumah tapi belum juga meluangkan waktu untuk anak2 saya. luar biasa! ini sungguh bertentangan dengan alasan saya kenapa dulu sejak kuliah bertekad untuk tidak mencari kerja kantoran dan memilih berwirausaha dengan konsep small office home office.saya memilih berwirausaha dengan harapan bisa punya waktu lebih banyak untuk keluarga dan sahabat2 saya, saya membayangkan kapan pun saya bisa bercengkrama dengan istri dan anak2 juga mengunjungi saudara dan sahabat tanpa harus menunggu weekend atau tanggal merah.

di tengah malam ini saya merenung sambil mengingat kejadian sore tadi saat bermain petak umpet bersama putri2 saya, ternyata kebahagiaan bagi anak2 begitu sederhana, paling tidak begitulah kesimpulan saya berdasarkan pengamatan terhadap anak2 saya sendiri. kebahagiaan bagi mereka adalah adanya curahan kasih sayang dari orang2 terdekat mereka. kebahagiaan bagi mereka adalah kebersaaman dalam kasih sayang. kebahagiaan bagi mereka sgt berbeda jauh dengan arti kebahagiaan bagi para koruptor yang meletakkan kebahagiaan pada pencapaian materi semata.

 

saya pun kemudian berpikir lagi, jangan2 orang tua yang sibuk dan enggan meluangkan waktu untuk anak2nya lah yang scara tidak langsung ikut andil dalam menciptakan manusia2 materialstik dan pada ekstrimnya akan menghalalkan segala cara demi kepentingan duniawi. betapa tidak?! orang tua yang sibuk dan enggan berbagi waktu dan kasih sayang dengan anak2nya lebih suka membelikan sekarung mainan agar anaknya bisa bahagia, jika mainan yang biasa2 saja sudah tidak dapat membahagiakan anak2nya maka ia membelikan mainan yang lebih canggih lagi hingga jika memungkinkan ia akan membelikan mainan yang paling canggih saat itu. mungkin tidak salah jika saya menyimpulkan bahwa orang tua yang seperti ini telah mengalihkan arti kebahagiaan bagi anak2 yaitu kebersamaan dalam kasih sayang menjadi sekedar ketersediaan materi semata. ketika anak2nya beranjak dewasa maka orang tua seperti ini lebih suka memberikan setumpuk uang daripada mendampingi saat2 penting dalam hidup mereka.

 

sepertinya tidak banyak orang yang akan menyangkal jika saya menyatakan bahwa kondisi negeri yang kita cintai ini sedemikian kacau balau, keadilan sulit untuk ditemukan, rakyat kecil tidak diperhatikan dan tidak mendapatkan haknya, kepentingan para pemilik modal diutamakan sedangkan kepentingan rakyat diabaikan, tapi mudah2an kita tidak turut memperburuk keadaan dengan tidak memperhatikan anak2 kita. anak2 kita adalah harapan masa depan, kita harus mendidiknya dengan kasih sayang, kita ajari mereka tentang kebersamaan dan menjauhi sifat individualistis, kita pahamkan mereka tentang makna kehidupan yang sejatinya adalah pengabdian kepada Rabb Semesta Alam dengan menjalankan segala aturanNya, anak2 kitalah nanti yang akan berada di garis terdepan dalam upaya menjadikan dunia ini lebih baik untuk semua ummat dengan kebersamaan dalam ketundukkan pada tuntunan Sang Pencipta.  mudah2an kita semua berhasil menjadi pemimpin yang baik yang memperhatikan rakyatnya di negara kecil kita yang bernama keluarga.