Di tiap zaman orang mengagumi sesuatu. Bisa dengan perasaan harap-cemas, ngeri, atau suka-ria. Sejarah tidak pernah lupa mencatat berapa banyak berhala dan kisah tentang legenda dan tragedi beserta para aktornya. Sebuah ide tentang kemerdekaan, pemenuhan hak-hak secara layak, dan persamaan yang merajai benak para pemuda dan mahasiswa Beijing mendorong mereka berkumpul di Tiananmen pada 1919 ketika menuntut pemerintah mengambil sikap tegas terhadap penjajah Jepang (yang kemudian memelopori tegaknya nasionalisme Kuomintang dan Komunisme Mao). Juga di 1989 saat demokrasi terdengar seperti pengurangan jam kerja, kenaikan upah, dan perbaikan taraf hidup.

Hal yang kurang lebih sama terjadi pada peristiwa Malari (Lima Belas Januari pada 1970-an) dan di depan Trisakti beberapa tahun silam. Bedil menyerang ide yang letaknya di kepala. Apa yang ada di kepala mereka bisa jadi berbeda-beda. Mereka menyuarakan keadilan. Tapi keadilan yang mana? Dalam bentuk apa? Ketika telah diperoleh, mau diapakan keadilan itu? Keadilan tampak abstrak saat itu. Yang tidak abstrak adalah para tentara yang dipersenjatai. Mereka mewakili sebuah kekuatan besar yang selama puluhan tahun dibiasakan tidak terlatih menghadapi kritik dan protes. Klimaks terjadi. Korban tidak terelakkan lagi. Yang tewas pada hari itu dianggap pahlawan. Tidak penting lagi apakah ia memang memasang badannya di depan kekuasaan atau ia tengah lari—menyelamatkan diri—dari medan lalu tersambar peluru nyasar. Yang penting ia mati. Itulah syarat menjadi pahlawan. Begitu juga mahasiswa yang tewas karena terkena bom. Pemakamannya diiringi lagu-lagu kebangsaan. Ia gugur sebagai pahlawan. Entah apa jasa dan kiprahnya bagi umat manusia.

Pernah seorang dosen menegur saya karena beberapa kali memperbarui janji yang telah disepakati. Kurang lebih ia mengatakan, “Anda mengacaukan jadwal saya. Saya tidak keberatan Anda membatalkan janji jika alasannya mengenai antara hidup dan mati.” Waktu itu saya cuma terdiam. Mati lagi. Beberapa hari kemudian ketika hendak beranjak dari rumahnya, di depan pintu saya berhenti untuk menatap matanya dalam-dalam sambil bertanya,

“Apakah tidak ada hal yang lebih penting daripada sekedar mati?”

“Kenapa bertanya begitu?”

“Di mana letak istimewanya mati? Toh semua orang akan mati. Saya bisa saja mati detik ini juga tapi apakah itu istimewa?”

Dia cuma tertawa dan mengatakan,”Anda anak baik.” Rambutnya yang keperakan dan geliginya yang tak lagi utuh waktu itu memantulkan sinar matahari sore.

Di perjalanan pulang, saya memikirkan kata-kata tadi. Mungkinkah kematian merupakan sesuatu yang dikagumi? Kematian itu sendiri ataukah sesuatu yang menempel padanya?—Seperti prestise yang tertempel pada sehelai kaus katun bertuliskan DOLCE & GABBANA atau CHANEL, misalnya, yang membuat pemakainya dapat mendongakkan kepalanya lebih tinggi dari seperlunya. Di masa ketika orang bingung menentukan siapa dan apa yang harus dipercaya, sosok-sosok dan peristiwa yang dianggap superior bisa jadi langsung mengambil tempat. Tapi sosok-sosok ini juga lahir dari situasi di mana kepercayaan begitu mahal harganya. Mereka lahir di tengah anggota dewan yang memalsukan ijazah, para elit politik yang gemar lempar batu sembunyi otak, ocehan konyol tentang kesejahteraan: bahwa kita mampu membayar utang US$ 83,5 miliar (Rp 616,63 triliun) tanpa ada pengeratan intelegensia. Atau ketika teluk misterius di belahan timur yang entah kenapa dapat menebarkan penyakit aneh pada penduduk setempat.

Sungguh, tidak ada orang yang mengetahui berakhirnya sebuah bangsa, begitu juga kelahirannya. Tapi itulah kekaguman. Proklamasi kemerdekaan tahun 1945, walau kita diam-diam sering bertanya-tanya dari mana datangnya otoritas—seperti yang dikatakan Derrida—sekelompok yang menamakan diri wakil bangsa, atau secarik teks dapat dianggap begitu menentukan nasib di depan. Tapi siapa yang mau menggugat itu? Ketika seseorang disebut selebritis dan seniman hanya karena pernah menjadi bintang iklan atau figuran di sebuah sinetron, siapa yang berhak membatalkan itu? Ketika seseorang—karena berada di tempat dan waktu yang salah—mati kemudian disebut pahlawan, siapa pula yang dapat mengoreksinya?

Mungkin ada sesuatu yang tertinggal. Alasan sesuatu dikagumi dan dihargai. Alasan, segila apapun itu, tampil sebagai suatu par excellence. Sebuah realitas tak tercatat dalam benak, yang terkadang khayali, yang diburu di setiap zamannya. Masalahnya sekarang adalah bagaimana kita menafsir alasan, karena tampaknya setiap orang berhak untuk itu. Si A mengagumi Inul karena ia percaya goyang ngebor adalah yang paling keren dari dunia tari. Sementara Si B mengagumi goyang Shakira karena percaya itu lebih berseni dan indah dari milik Inul. Tapi siapa yang mau memprotesnya? Toh kedua alasan itu sama-sama lahir di masa kepercayaan hanya berbuntut kebingungan.

Begitu juga ketika kita menafsir mati. Kita, katakanlah, mengagumi kematian. Mungkin karena kita takut pada kematian itu sendiri. Kenapa kita takut mati? Pada kematian itu sendiri atau pada sesuatu setelah kematian? Pada neraka karena percaya kita tak layak mendapat surga? Bukankah pada dasarnya, mengutip Rumi, kita takut pada diri kita sendiri? Lantas di mana istimewanya kematian yang kita kagumi?

Kemudian Allah berfirman bahwa Ia membeli harta dan nyawa orang beriman dan menukarnya dengan surga. Juga menyamakan kedudukan seorang martir yang tewas di tangan penguasa zalim dengan kedudukan sang penghulu syuhada, hamzah. Sampai sini kita berhenti menafsir keistimewaan mati. Akhirnya, mati memang tidak istimewa karena mati itu sendiri. Ia penting karena berwujud sebuah pengorbanan (sacrifice), bukan korban itu sendiri (victim) atas perintah Ia Yang Maha Menguasai Mati.

Mungkin dengan demikian kita mau lebih berhati-hati sebelum memberikan predikat pahlawan kepada orang yang telah tiada. Mungkin kita akan lebih menghargai hidup, tidak menganggapnya sebagai suatu kewajaran yang selayaknya kita dapatkan. Kata orang: selama apa pun kita hidup, tidak akan pernah kita rasa cukup. Keistimewan hidup akhirnya kita maknai bukan pada lamanya kita hidup atau pada hidup itu sendiri, seperti halnya mati.

Saya bukan pemberi anjuran yang baik. Tulisan ini pun bukan dalam rangka menganjurkan siapa-siapa. Tapi ketika kekaguman kita tidak lagi berupa mistifikasi puitis atas realitas hidup yang berat melainkan lebih jauh dari itu: sebuah pengorbanan yang jelas asal-usulnya. Saat tiba waktunya nanti kita mungkin akan mampu dengan takzim berucap pada langit keunguan, “Selamat datang, mati.”  }fikri{