20 ribu……

150 ribu………

Setengah juta………

700 ribu………

3 ribu………

1 juta……..

Angka yang saya tuliskan di atas bukan menunjukkan banyaknya uang yang saya miliki (karena saya memang tak pernah punya uang banyak), bukan juga menunjukkan banyaknya utang yang saya miliki (walaupun saya akui saya memang punya banyak hutang).

Tetapi angka di atas adalah angka-angka yang berhubungan dengan Amerika!

Amerika, yang menyebut dirinya sebagai  negara adidaya, polisi dunia, penebar kedamaian, dan negaranya pahlawan. Amerika, yang katanya menjunjung tinggi hak asasi manusia, negara demokrasi, negara penuh kebebasan dan toleransi. Amerika, yang pernah menginvasi Irak, membom Hiroshima dan Nagasaki, menebar bom biologi, membunuh dengan mengasapi ratusan warga sipil, dan menyiksa tanpa rasa kemanusiaan sedikitpun di penjara Abu Ghuraib.

Amerika, yang terkenal sebagai negara Adi kuasa, mempunyai sebuah pandangan dalam melaksanakan kebijakan yang berhubungan dengan politik luar negerinya, termasuk kebijakan tentang invasi dan ekspansi. Amerika yang dikenal sebagai negara besar, polisi dunia, dan penguasa imperium saat ini adalah sebuah sosok yang senantiasa melakukan aktivitasnya berdasarkan ide-ide besar yang diembannya. Salah satu ide yang memberi alasan Amerika untuk berkuasa melakukan invasi dan ekspansinya adalah manifest destiny. Sebuah ide yang membuat dan menjadikan Amerika sebagai penguasa sekaligus penjahat dalam imperium baru ini.

Manifest destiny;   

Salah satu myths dalam sejarah intelektual Amerika adalah manifest Destiny. Manifest artinya pernyataan terbuka tentang tujuan dan pandangan seseorang atau suatu kelompok. Destiny berarti takdir atau ketentuan Tuhan. Manifest Destiny Amerika secara garis besar diinterpretasikan sebagai pandangan para intelektual Amerika akan takdir dan ketentuan Tuhan. Implikasi dari manifest destiny adalah adanya pandangan yang melekat pada orang-orang Amerika bahwa negara Amerika telah ditakdirkan oleh Tuhan sebagai negara paling adidaya dan sebagai pemimpin dunia. Manifest destiny Amerika sangat berpengaruh terhadap cara pandang dan pola pikir orang-orang Amerika dalam memperjuangkan hidup (struggle for life). Tidak heran apabila Amerika menggunakan dan menerapkan konsep manifest destiny dalam aktivitas hidupnya.

Ronald Reagan pernah mengatakan dalam suatu pidatonya, bahwa kekayaan dan kemakmuran Amerika Serikat tidak lain disebabkan bahwa Amerika adalah bangsa yang diberkati Tuhan. Tetapi salah seorang tokoh agama Spanyol dengan berani mencemooh pernyataan Reagan sebagai ucapan tak senonoh dan klenik, karena pada kenyataannya kekayaan dan kekuatan Amerika tidak datang lantaran berkah dari Tuhan, melainkan karena Amerika telah mengeksploitasi dunia, khususnya dunia ketiga melalui pertukaran yang tidak seimbang dan tidak adil, pemaksaan pada dunia untuk mengimpor produk-produk Amerika, dan penanaman modal Amerika ke negara-negara yang taraf hidupnya masih rendah dengan bunga pinjaman yang mencekik.

Pada akhir abad ke-19, bentuk manifest destiny baru dibungkus dengan ide modern dan gagasan ilmiah. Darwinisme merupakan salah satu sumber dan pendukung bentuk manifest destiny baru yang terwujud dalam imperialisme. Dalam industri, implikasi dari ide ini adalah adanya monopoli yang mewakili sebuah proses alam yang paling tangguh (the fittest) dan yang paling bertahan. Monopoli industri dijadikan dasar untuk menaklukkan yang lemah.

Dorongan agresi dan perencanaan menjadi bagian dari rencana alam evolusi manusia. Barang siapa yang menentangnya, berarti menentang hukum alam. Hukum alam tidak mengenal baik dan benar, karena tanggung jawab berpindah dari kata hati menuju alam. Etika perang dan hubungan internasional menjadi lebih primitif. Orang yang paling tangguh untuk memimpin adalah mereka yang mempunyai kekuasaan, kekuatan, dan keahlian dalam memimpin atau menguasai.

Dalam memandang dunia luar, manifest destiny sangat memperhatikan laut sebagai sarana utama untuk menguasai dunia. Kapten Alfred T. Mahan, seorang tokoh angkatan laut, mengembangkan program imperialisme yang mencakup pendirian pasar luar negeri, perluasan kapal dagang, dan pembentukan angkatan laut. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi kapal dagang, dan penguasaan pangkalan laut yang memungkinkan armada laut beroperasi di seluruh lautan.

Manifest destiny Amerika bertujuan untuk menguasai wilayah lain yang dimaksudkan sebagai pengembangan untuk kebebasan dan pemerintahan federasi. Manifest destiny menjadi rasionalisasi untuk melakukan ekspansi dan digunakan sebagai pembenaran perluasan wilayah teritorial Amerika. Penaklukan untuk memperluas wilayah teritorialnya dianggap sebagai misi suci. Misi yang dilakukan dengan menggunakan kekuatan secara paksa.

Meskipun demikian, manifest destiny dianggap bertujuan untuk menyebarluaskan model demokrasi politik Amerika sebagai cerminan misi tersebut. Ekspansi dianggap sebagai sarana memperluas wilayah kebebasan. Amerika ditakdirkan tidak hanya mengajarkan kebebasan dan demokrasi politik sebatas suatu wacana (ajaran) tetapi juga harus diwujudkan dalam bentuk perluasan wilayah.

Disamping bertujuan menyebarkan idealisme demokrasi, manifest destiny juga merupakan bentuk penindasan rasial. Manifest destiny inilah yang merupakan dasar dari bentuk imperialisme Amerika terhadap dunia.  Manifest destiny digunakan sebagai pembenaran untuk menaklukan Indian dan Amerika Latin.  Indian dan Amerika Latin tersubordinasi di bawah kekuasaan the North America Republic yang didominasi oleh the Angle-Saxon race.

Superioritas ras ini menempatkan superioritas Angle-Saxon di wilayah Timur khususnya orang-orang kelas atas dan sebagian orang kulit putih di wilayah selatan. Superioritas ini dikenal dengan istilah Teutonic atau Aryan. Dari segi agama, superioritas ini dianggap sebagai istilah persetujuan Tuhan. Amerika sebagai Teutonic Nation bertugas menjelaskan misi untuk melaksanakan peradaban politik dunia modern.

Maka bukanlah suatu hal yang aneh ketika Amerika membuat keputusan untuk menginvasi Irak, membombardir Afganistan, dan meluluhlantakkan siapa saja yang berkehendak menyerangnya.

Dalam kurun waktu antara 1952 hingga 1973, Amerika Serikat, berdasarkan pemikiran yang objektif, telah membantai kurang lebih 10 juta orang Cina, Korea, Vietnam, Laos, dan Kamboja. Kamu pasti tak mampu membayangkan berapa jumlahnya jika ditambahkan dengan korban pembantaian di Irak dan Afganistan.

Di Liberia, pada awal dekade 90-an, lebih dari 150 ribu orang dibunuh; di Zaire ribuan orang dihabiskan dan setengah juta orang dipaksa meninggalkan rumah mereka karena operasi pembersihan ras; satu juta orang di Sierra Leone diusir dan beribu-ribu orang mati sia-sia dalam perang dan kelaparan; di Angola 20 ribu orang mati selama embargo yang dilakukan oleh pemerintah UNITA terhadap kota Quito yang berlangsung hingga 8 bulan.

Perang Vietnam menyebabkan tewasnya 160 ribu orang, 700 ribu orang disiksa dan menjadi cacat, 31 ribu wanita diperkosa, isi perut 3000 orang dikeluarkan saat masih hidup, 4000 orang dibakar sampai mati, 1000 tempat ibadah dihancurkan, dan 46 desa diserang dengan senjata kimia beracun.

Itulah maksud dari angka-angka yang saya tulis di awal tadi. Angka-angka yang membuat saya, mungkin juga kamu mengutuk Amerika sebagai bajingan kelas kakap. Angka-angka yang jumlahnya menjadi jauh lebih dasyat jika ditambahkan dengan angka-angka yang dihasilkan pada invasi ke Irak, Afganistan, dan beberapa negri-negri lain. Angka-angka yang membuat saya tak sudi untuk bersedih ketika 5000 orang Amerika tewas dalam peristiwa WTC September 2001 lalu.

Betapa menjijikkannya sebuah negara yang mengakui dirinya sebagai polisi dunia mengemban sebuah ide yang membenarkan cara kriminal untuk menjadikan negaranya besar. Betapa memuakkan sebuah bangsa yang menganggap dirinya sebagai adikuasa mengemban sebuah ide yang memberikannya kebebasan untuk membunuh, mengusir, dan menindas dalam rangka membentangkan sayap kekuasaannya.

Haruskah kita senang ketika kita dilahirkan di Indonesia, di sebuah negara yang belum pernah di invasi oleh Amerika secara terang-terangan. Sehingga membuat kita harus bernafas lega ketika tahu keluarga dan teman-teman saya tidak akan disiksa, dibunuh, atau dibom. Bodoh sekali jika ada ungkapan yang mengatakan, untung gue sekarang di Indonesia, ato untung gue bukan orang Irak. Karena tak lama lagi giliran kita yang akan diinvasi oleh Amerika. Seperti yang diungkapkan seorang penulis berkebangsaan Inggris, Jeff  Simon dalam bukunya yang berjudul ‘Agresi ke Irak: antara sanksi, hukum, dan keadilan’ yang berbunyi ‘kepada satu juta anak Irak yang terbunuh dalam perang biologi Amerika pada dekade 90-an, dan kepada ratusan ribu lainnya yang AKAN menyusul pada bulan-bulan dan tahun-tahun mendatang’. Kita harus bersiap menjadi koraban berikutnya!

Dari sini, masih pantaskah kita menyebut Amerika sebagai polisi dunia yang bercita-cita memberantas teroris (padahal Amerikalah teroris), pusat kebebasan, dan pelindung hak asasi manusia? Bahkan ketika Bush mengungkapkan rencananya saat akan menyerang Irak dengan kata ‘WE WILL SMOKE THEM’ , tak ada satu alasan pun yang membuat saya menganggap Amerika sebagai negara hebat.

Bagi saya, AMERIKA ADALAH NEGARA BANGSAT!