kecemasan baru lagi muncul tiba-tiba. rasanya bilyunan lafal yang dipanjatkan orang bertuhan karena takut terhadap dosa-dosa yang akan dimintai tanggung jawabnya kelak itu tak pernah cukup untuk melipat rapi kecemasan dan menyimpannya di dalam sebuah kotak untuk kemudian saya kuburkan, dan setelah itu saya akan berjalan dengan mapan.

tapi jujur, saya tetap tidak bisa melakukannya. kecemasan baru itu lagi-lagi muncul.

dan inilah sumber kecemasan itu:


“orang berakal adalah yang tidak panjang angan-angannya. karena siapa saja yang kuat angan-angannya, maka amalannya lemah. siapa saja yang dijemput ajalnya, maka angan-angannya pun tidak ada gunanya. orang berakal tidak akan meninggal tanpa bekal; berdebat tanpa hujjah, dan berbenturan tanpa kekuatan. dengan akal, jiwa akan hidup; hati akan terang; urusan akan berjalan dan dunia akan berjalan.” (ibn hayyan al-basti, raudhatu al-‘uqala’ wa nuzhatu al-fudhala’)

saya, manusia yang sedang kembali berdiri ini, sepertinya memang harus belajar bahwa kecemasan bukan barang haram, dan tak perlu enggan untuk berpapasan dengan rasa yang satu itu (yang juga pernah menjadi satu-satunya hal yang dalam pandangan saya membedakan manusia hidup dengan bangkai). karena buktinya Umar ibn al-Khaththab RA, sosok gagah itu, juga hidup dengan penuh kecemasan di sana sini. kecemasan yang membuat akhirnya ia selalu memuarakan nafasnya untuk memohon ampunan pada Allaah SWT, kecemasan yang membuat ia RA yang keganasannya takluk pada surat Taaha yang dibacakan adiknya (Fathimah al Khaththab) itu enggan untuk hidup dengan bergelimang kenikmatan dan kesenangan, bahkan ia rela untuk tidak lagi mencecap makanan kesukaannya karena ia takut bahwa kenikmatan itu akan menyusutkan kebaikannya. dan inilah yang seringkali diungkapkan sang Umar tiap kali orang-orang bertanya mengapa ia RA sangat ketat dan berhati-hati dalam hidup: “apa yang bisa ku pertanggungjawabkan di hadapan Tuhanku kelak?”

itulah mengapa Rasulullaah SAW bertutur:“‘para sahabatku laksana bintang-bintang, siapa saja yang kamu ikuti, pasti akan mendapat petunjuk.”


ya Allaah, sesungguhnya kami berlindung kepadamu dari kemungkinan terpelesetnya iman dan tersesat. kami memohon kepada-Mu taufik orang yang mendapat petunjuk, amalan orang yang yakin, keikhlasan orang-orang yang bertaubat, keteguhan orang-orang yang sabar, kesungguhan orang yang takut, usaha mencari orang yang mencintai-Mu, ibadah ahli wara’, dan pengetahuan ahli ilmu… hingga kami takut kepada-Mu, seperti sudah seharusnya.*