Kali ini aku ingin menulis tentang guruku. Ketika aku mendefinisikan seseorang sebagai guru, itu artinya ia adalah orang yang aku belajar banyak darinya meski aku tak banyak belajar (hehe… sikap seorang oportunis, bukan?) Aku ingin mengenangnya. Jika aku melupakannya, aku tak bisa memafkan diriku sendiri. Melupakan guru sungguh menyedihkan. Mengibakan. Karenanya, aku ingin memandang mesra kepada hal-hal yang menyentuh itu, mengumpulkannya, lalu membingkainya supaya tetap mempesona di dalam hati. Dan tentu saja aku hapal dengan sehapal-hapalnya bahwa kau bisa saja mengataiku sentimentil, melankolis, sok berpandangan alternatif, atau berbicara tak penting. Aku mengenal orang seperti itu dan pernah larut dalam jiwa seperti itu; ketika aku memuasi sepi. Saat itu aku tak menaruh minat pada orang lain, tak mencintai siapa pun dan tak pernah tertarik pada apapun. Aku hanya tertarik pada hal-hal besar dan tak punya waktu memperhatikan detail. Aku orang yang Serius (dengan huruf besar “S”). Tetapi sungguh menjemukan. Kau tak pernah mencintai siapa pun? Uh, betapa kau pantas mengasihani dirimu sendiri. Maka kubuat saja tulisan ini kepada dunia. Tetapi sayangnya dunia tidak pernah menulis surat kepadaku. Itu bisa kumaklumi, tapi tidak untuk sikap sentimen sok serius yang tak pernah bisa menghargai tegur sapa seorang kawan, lelucon seorang humoris, atau melankolia seorang pecinta. Kau tak nyaman membaca tulisanku? Sudah sewajarnya.
Tidak, maafkan aku kawan. Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu. Aku ingin menjangkaumu dan menghabiskan waktu denganmu membicarakan hal-hal yang sangat mungkin tak penting tapi cukup berarti: sementara kita tempuh hari-hari yang keras sesuatu yang indah masih berada tertinggal pada kita dan mari saling berbagi. Ya aku tahu, kita memang harus menyimak soal-soal besar agar dunia menjadi lebih adil di masa depan. Tetapi tidak berarti pesona kecil di pelataran sepi harus kita campakkan, huh? Sekarang apakah kau sudah bersedia membaca kelanjutan tulisanku? Kuharap ya.
Guruku pengusung Islam ideologis. Lebih dari itu, ia baik, bijak, dan menyenangkan. Ketika kukatakan baik, itu artinya ia tak mungkin memikirkan dirinya sendiri saja. Sebaliknya, ia akan begitu ketakutan jika muridnya kehilangan harapan disebabkan ucapannya. Dan ketika kusebutkan bijak, mustahil ia berwawasan sempit. Ia semakin menyadarkanku betapa pentingnya menghargai ilmu pengetahuan sekecil apa pun itu. Bisa kau bayangkan bahwa suatu kali ia pernah merekomendasikan aku dan teman sekelompok pengkajianku membaca Kungfu Boy jilid 1-20? Menurutnya komik ini mendidik. Atau bukankah suatu hal yang manis ketika ia bersyukur karena satu edisi majalah Donald Bebek memperkenalkan kepadanya Timbuktu, satu tempat yang memberinya inspirasi untuk melihat peta sehingga sampai pula ia pada informasi bahwa Timbuktu adalah sebuah daerah hampir terasing di benua Afrika namun tak diasingkan ketika dulu Khilafah Islam masih ada bahkan begitu terperhatikan sehingga makmur? Ya, ia tak pernah mengkritik bacaanku (bacaan yang kebanyakan dipinjam dari teman). Orang memang kadang mengangap ”orang adalah apa yang ia baca”. Ketika aku menggauli Catatan Pinggir, aku adalah Catatan Pinggir. Tapi ia tak begitu. Ia tak pernah mencurigaiku bahwa aku mungkin saja berkhianat dengan apa yang kubaca. Lalu yang terakhir, ia menyenangkan karena ia tentu bukan orang yang sok serius. Kulihat ia sedapat mungkin mencairkan formalitas—yang biasanya ada karena sikap sok jaim yang hanya mematikan hubungan pertemanan yang hangat antara guru dan murid—tanpa membuatku kehilangan rasa segan kepadanya.
Ia mungkin takkan suka aku menulis tentangnya. Sebab dulu ketika kukatakan kepadanya dengan mengutip kalimat Vertical Horizon, “You’re the best I’ve ever had”, ia membalasnya dengan,”Ah, saya hanya gudang aib.” Kesan lainnya yang meninggalkan jejak kaki adalah bahwa ia begitu passionate. Ini terlihat dari kehirauannya pada hal-hal yang detail yang biasanya tersamarkan oleh kelap-kelip lampu sejarah. Aku kira passion seperti ini sedikit sekali ditemui pada orang-orang yang biasa berpikir besar seperti kita (chieh…). Namun baginya berpikir besar tidak berarti abai terhadap hal-hal kecil. Hal-hal kecil memang hanya selingan. Tetapi selingan menyuburkan daya cipta, kata Pramoedya Ananta Toer. Dan kehirauan terhadap hal-hal kecil mengingatkanku bahwa segala sesuatunya penting. Kau tahu, ia pun orang yang berempati. Aku rasa empati menjadi pondasi dalam setiap tausiahnya sehingga ketika ia bertausiah, ia seperti yang digambarkan Boyzone dalam satu lagunya, he really gave what a boy could take. Dan setidak tahu diri apapun aku, tak pernah kubaca benci dalam marahnya.
Jadi itulah guruku tersayang. Mudah-mudahan ada setitik siratan yang bisa dipertimbangkan. Dan mudah-mudahan apa yang kutulis bukanlah semacam melankolia seorang pecinta yang membahasakan segala rasa hanya demi kata berbunga susastra. Mudah-mudahan ini tulus.