Menonton The Gladiator atau Atilla the Hun, serta membaca Encyclopedia Britanica, membuat saya tahu bagaimana bangsa Romawi di masa lalu menatap peradaban mereka. Mereka sangat bangga dengan simbol-simbol kebudayaan mereka. Setidaknya ada tiga simbol kebanggaan mereka yaitu Coloseum, tempat olah raga dan adu singa dengan manusia; Theatre, tempat main opera; serta patung-patung manusia yang mereka desain dengan sangat indah.
Dengan kebanggaan akan simbol-simbol itu mereka memandang dunia sekitarnya sebagai kumpulan bangsa-bangsa terbelakang yang harus diberadabkan. Gaya hidup suku-suku di sekeliling Pax Romana (wilayah kekaisaran Romawi) memang sangat tidak sebanding dengan kebiasaan bangsa Romawi yang hidup dalam benteng-benteng dan gedung-gedung megah dengan arsitektur menawan khas Athena. Saat pandangan saya tertatap pada kehidupan bangsa Arab di tengah teriknya padang pasir yang menarik onta dan keledai dengan susah payah, saya berpikir betapa senjangnya gaya hidup mereka dengan anak cucu Julius Caesar yang menaiki kereta-kereta megah dengan pakaian sutera berlapis emas. Bangsa Arab cukup menyita perhatian saya mengingat penampilan mereka yang sangat berbeda: berjenggot, bersurban, berbaju panjang. Sementara moyangnya Francesco Totti di Roma tampil klimis: potongan rambut pendek, tanpa penutup kepala, pakaian yang simpel. Nampak sekali dari penampilan itu mereka ingin serba cepat dalam segala urusan duniawi. Mereka juga kelihatan bersih dan sigap, sangat bertolak belakang dengan bangsa Arab yang kumal dan serba lambat.

Terus terang saya jadi berpikir, modern berarti klimis, bukan kayak orang Arab. Modern berarti duniawi, bukan kayak orang Arab. Modern berarti tangkas dan bersih, bukan kayak orang Arab. Tak ketinggalan, modern berarti Coloseum, Theatre, patung, bukan kayak orang Arab (bangsa Arab memang mempunyai patung, tapi bentuknya sangat kasar dan tidak jadi kebanggaan, hanya pemujaan). Saya jadi mengira-ngira, nampaknya seperti itulah definisi “modern” dalam tatapan mata berbagai bangsa yang hidup sekitar abad I M, kayak Romawi, bukan Arab. Tak terbayang orang-orang gurun pasir yang jenggotan, kumal, lamban dan penarik onta tadi, bisa punya kebudayaan maju. Tak terbayang para bangsawan yang necis-necis di Roma bisa mundur peradabannya. Arab tetaplah Arab, primitif! Roma tetaplah Roma, beradab!

Namun, kalau saya membaca berbagai literatur tentang kehidupan sekitar abad XI M, ceritanya berbeda jauh sekali, berkebalikan. Saat itu, dunia ternyata dipimpin oleh bangsa dari gurun pasir tadi. Mereka membangun bangunan-bangunan megah dan indah. Juga benteng-benteng. Kota Baghdad yang mereka dirikan, tak kalah rupawan dari Roma di masa silam. Ajaibnya, mereka masih dengan jenggotnya, surbannya, dan pakaiannya yang panjang (jubah). Tak lupa pula onta dan keledainya. Tapi yang berbeda, bahan pakaian mereka dari kain yang halus. Mereka juga sangat rapi dan selalu menjaga kebersihan. Tak ada kesan “lambat” dari penampilan mereka itu. Yang ada hanya “tenang” dan “penuh perenungan”, khas Antonio Banderas dalam The Warrior 13th, dalam perannya sebagai Ahmed ibn Fadlan, mantan duta besar Kekhalifahan Abbasiyah. Bagaimana dengan bangsa Romawi? Banyak dari mereka yang hidup sebagai bajak laut pengganggu pelayaran laut Mediterania. Tampilan mereka, tetap saja, klimis dan serba praktis. Tetapi, kumal dan tanpa perhitungan.

Lantas, kalau dunia dipimpin orang-orang berjenggot tadi, apa ada juga simbol-simbol peradaban? Ternyata mereka juga punya, tapi bukan arena olah raga, tempat opera, atau patung. Tapi tempat-tempat ibadah, perpustakaan, rumah sakit, observatorium dan berbagai sarana yang mendukung ilmu pengetahuan. Semuanya dengan arsitektur yang serba anggun, gabungan nuansa Athena dengan tiang-tiangnya yang penuh wibawa, serta nuansa Persia dengan segala coraknya yang detil dan penuh kedalaman. Penampilan mereka dengan pakaian yang “tidak praktis” itu justru memberi kesan elegan, berilmu, bijak dan mengejar kehidupan yang penuh makna. Ibnu Haitsam dan Ibnu Masawaih memang bersorban, tapi kesan cerdik pandai mereka sama sekali tak terganggu. Definisi modern saat itu nampaknya sangat jauh dari definisi modern zaman Romawi.

Mengapa bisa berubah? Semuanya itu muncul sejak berkembangnya agama Islam. Zaman Muhammad s.a.w lahir, gambaran “modern” masihlah kehidupan gaya Roma. Apa sempat terbersit dalam benak orang-orang Mekah waktu itu akan munculnya peradaban yang sangat berbeda dengan tata hidup Pax Romana, sekaligus berbeda dalam berbagai parameter dan ukuran kemodernannya? Nampaknya tidak. Tapi seratus tahun pasca Rasulullah s.a.w wafat, kenyataan itulah yang terjadi. Dunia dipimpin dengan peradaban baru yang tidak memakai corak dan ukuran Roma.

Abad XXI M nampaknya cerita telah berubah lagi. Kehidupan sekarang nampaknya tak salah jika disebut kehidupan Romawi Baru. Jiwanya Roma, tapi dengan atribut teknologi masa kini. Lihat saja, theatre muncul kembali: Hollywood. Coloseum bereinkarnasi menjadi Olimpiade, World Cup, dan Liga Champion. Bank-bank belum merasa mantap dan percaya diri jika belum ada dua patung gaya Roma di depan pintu masuk. Manusia-manusianya juga menyenangi segala tampilan yang serba praktis: muka klimis gaya Leonardo diCaprio, atau pakaian miskin kain khas Jennifer Lopez. Tak cukup itu, obsesi duniawi sangat mendapat perhatian, terbukti dengan jenis bangunan yang mereka bangun: bank, bursa saham, money changer.

Tak cukup itu, dunia saat ini merasa “berkewajiban” untuk hidup dengan gaya New Romawi. Vijay dan Krishna di India merasa wajib menyukseskan Bollywood. Jacques dan Marie di Prancis sangat fanatik dengan Sophie Marceau atau Gerard Depardieu. Paijo dan Tukinem di Indonesia merasa harus istirahat siang untuk menonton Agnes Monica. Cecep juga bosan dengan sarungnya dan berganti dengan jeans yang bolong lututnya, yang lebih “praktis”. Kampung-kampung di Solo sepi pada jam 05.00, bukan karena penduduknya berjamaah Shubuh di masjid, tapi asyik menonton Lega Calcio. Bu Dhe saya sangat hapal Carita de Angel, Dulce Maria, tante rambut palsu, suster Caecilia, lengkap dengan cara nangisnya. Mungkin ini persis dengan para penduduk Roma dulu yang sangat bangga dan fanatik akan para pemain drama