Here is your winner !Malam baru saja menampakkan wujudnya di luar jendela. di dalam pikiran, sebuah kata menggema. semakin lama semakin gaduh, dan kesunyian pun luruh. saya berusaha untuk tidak peduli, pura-pura sibuk menghimpun lelah, agar kantuk segera mendapatkan sedikit celah. Siapa tahu saja saya akan langsung tertidur, bermimpi, dan kata yang gaduh itu akan segera enyah ke negeri entah.

Namun, kata itu tak juga kunjung menghilang, malah gema nya terdengar semakin riang. Ah! baiklah. Saya menyerah. Untuk sementara waktu, keinginan untuk tidur langsung saya kubur, dan  kata itu terlihat begitu terhibur.

Saya segera meraih pena dan kertas, lantas menuliskan kata itu dengan agak sedikit malas. Baiklah dengan semangat sok tahu, saya pun mencoba membuat tulisan yang berkaitan dengan kata itu : MENANG.

Apa arti menang bagi saya? entah lah, sepertinya biasa saja. secara naluri saya memang bangga jika saya mendapatkan kemenangan. Namun, saya tidak ingin rasa bangga itu mengendap terlalu lama. Saya akan segera mehancurkannya, sebelum rasa bangga itu menjadi semakin banal dan akan membuat diri saya pribadi menjadi pribadi yang bebal.

Jelek-jelek begini, sesekali saya pernah meraih kemenangan Apakah saya bangga? tentu saja! namun, rasa bangga itu buru-buru saya redup kan dan perasaan skeptik pun segera saya hidupkan. Dengan semangat skeptik itulah, saya pun menganggap bahwa kemenangan hanyalah “sekedar” saja, yang tidak perlu disikapi dengan begitu jmawa.

Namun, sayangnya saya sering menyaksikan banyak sekali manusia yang terperangkap dalam euforia kemenangan. Meraih kemenangan seperti telah meraih segala-galanya, yang rasanya bodoh sekali kalau tidak dirayakan. Padahal, tak jarang kemenangan itu terlahir dari sebuah konsep yang bisa dikatakan absurd.

Sederhananya adalah, kita tidak usah terlalu jemawa atas kemenangan, juga tidak perlu terlalu nestapa atas kekalahan. Menang dan kalah hanyalah sebatas angka, dan kehidupan ini akan terus berjalan sebagaimana mestinya.

saya letakkan pena, dan tersenyum sambil menghela napas lega, tiba-tiba saja saya merasa begitu sok tahu. Namun, biarlah. Setidaknya kata itu telah tumpah dari dalam tempurung kepala saya.

Saya melirik jam dinding, hmm sepertinya sekarang saya sudah bisa tidur dengan tenang.