Saya sering berjumpa dengan beberapa teman yang memiliki motto hidup seperti ini: “Gue mah ngejalanin hidup ini mengalir aja, sama kaya air.”

Pada mulanya saya tertarik dengan motto hidup “mengalir” seperti itu. Tampaknya asyik. Tak usah repot-repot membuat daftar target yang mesti dicapai. Tak perlu membayangkan besok saya harus begini, lusa saya mesti begitu, tahun depan saya ingin menjadi ini dan itu. Jalani saja hidup ini dengan mengalir. Amini segala hal yang telah terjadi. Syukuri semua yang telah kita dapati. Lihatlah, betapa asyik sekali.

Lantas saya mencoba menerapkan teori “mengalir” itu ke dalam kehidupan saya. Dan hasilnya apa? Hasilnya adalah nol! Ternyata teori “mengalir” itu adalah omongkosong belaka.

Kita tidak akan bisa menjalani hidup ini dengan hanya mengalir. Kita bukan air. Kita adalah manusia, seonggok mahluk yang akan selalu terbentur dengan sesuatu yang bernama pilihan. Teteskan saja air di daun talas, lalu kamu goyang-goyangkan daun talas itu naik-turun, maka air itu pasti akan selalu ikut bergerak, selalu menuntut untuk ke tempat yang lebih rendah. Kenapa bisa begitu? Karena begini. Kenapa bisa begini? Karena begitu. Yeah! Air tidak serewel manusia, yang gemar sekali bertanya-tanya. Tidak ada kata “pilihan” dalam kamus kehidupan air. Ia akan selalu mengalir tanpa ada kehendak untuk menolak. Biar pun bertemu cabang yang terbelah dua, air tidak akan lantas berhenti dan berfikir: “Pilih cabang yang mane, ye?” Tidak seperti manusia!

Itu sebabnya saya menganggap bahwa motto “menjalani hidup dengan mengalir” itu utopia banget. Sejak bangun tidur kita sudah dituntut untuk tidak boleh mengalir begitu saja. Sejak pagi kita disergap dengan berbagai macam pilihan. Langsung mandi atau melamun dulu? Langsung sholat subuh atau meneruskan tidur lagi? Di saat mandi pun kita dituntut untuk memilih: gosok gigi dulu, sabunan dulu, atau shampoan dulu? Lihatlah, repot bener kan jadi manusia?

Apalagi pilihan tidak hanya sebatas memilih yang baik atau yang buruk. Terkadang kita akan berjumpa dengan dua pilihan yang keduanya baik, atau sebaliknya. Belum lagi kita akan menyadari bahwa nilai baik atau buruknya suatu pilihan, hanya akan hadir setelah kita memilih. Baik atau buruk terkadang sering hadir belakangan. “Wah, ternyata saya salah memilih!”. Kalimat semacam itu akan terlontar dari bibir kita setelah kita menentukan suatu pilihan dan telah menjalani pilihan tersebut.

Di sinilah garis pembeda antara manusia dan mahluk lainnya terlihat semakin jelas. Hanya manusia saja yang hidupnya selalu bertemu dengan pilihan. Motto “menjalani hidup dengan mengalir” jelas tidak sesuai dengan fitrah manusia.

Memilih suatu pilihan terkadang sering mendatangkan kecemasan. “Seandainya tadi saya memilih yang itu, apa yang akan terjadi selanjutnya, ya?”. Memilih memang sering menyebalkan. Memilih artinya harus rela melepas yang tidak dipilih, dan relakah kita melepas suatu pilihan yang sama sekali belum kita pilih? “Seandainya tadi saya memilih yang itu, apa yang akan terjadi selanjutnya, ya?”. Rasa penasaran akan terus menggerogoti isi tempurung kepala kita, sampai akhirnya kita pun menjadi manusia yang cemas, yang gelisah, yang penasaran, yang sebelum tertidur hati kita akan selalu resah bertanya-tanya, “Seandainya tadi saya memilih yang itu, apa yang akan terjadi selanjutnya, ya?”

Itu sebabnya, karena malas berhadapan dengan kecemasan itulah, akhirnya sebagian besar manusia sering merasa iri terhadap air dan sering membayangkan betapa asyiknya jika menjadi air. Mengalir, mengalir, dan akan selalu terus mengalir tanpa pusing-pusing menentukan pilihan. Tetapi, apa boleh buat, khayalan ingin menjadi air itu akan tetap menjadi sebatas khayalan semata. Sebab, pada kenyataannya kita adalah seorang manusia, yang akan selalu hidup berdampingan dengan sesuatu yang bernama pilihan.

Selamat menjadi manusia. Selamat menjalani hidup. Dan, tentu saja, selamat memilih!