angry_baby1Saya sempat mendengar tentang hadis nabi yang mengatakan bahwa salah satu tanda-tanda kiamat adalah adanya budak yang melahirkan majikan. Saya sudah terlanjur menganggap bahwa dalil (baik Al Quran maupun Hadis Rasul) bisa bermakna denotatif (sebenarnya) dan bisa pula bermakna konotatif (kiasan). Memahami hadis di atas pun saya berlaku demikian. Budak yang melahirkan majikan bisa bermakna sebenarnya, yaitu seorang budak perempuan yang telah melahirkan anak majikannya. Bisa pula bermakna kiasan, yaitu seorang ibu (baca: orangtua) yang telah melahirkan anak yang kelakuannya sudah seperti majikan. Di sini saya tidak ingin membahas makna yang pertama, melainkan yang kedua, yaitu tentang orangtua yang telah menjadi budak atas kuasa anak-anaknya (majikan).

Dalam Nizham al-Islam karya Taqiyudin an-Nabhani, dalam bab Thariqatul Iman (Jalan Menuju Iman), dikatakan bahwa perilaku seorang manusia ditentukan oleh pemahamannya. Saya mengamini penyataan tersebut, dan itulah yang akhir-akhir ini membuat saya bingung. Teman-teman saya yang memiliki pemahaman Islam sebagai pedoman hidupnya, yang sudah berkeluarga dan sudah memiliki anak, mengapa kehidupan berkeluarganya tidak berbeda dengan kehidupan keluarga pada umumnya? Perbedaan hanya terdapat di pemahaman, tapi kelakuan sama saja. Apakah pernyataan Taqiyudin di atas harus diperiksa ulang, atau apakah kesalahan tersebut terletak pada individunya?

Saya memang bukan parenting andal, tapi jelek-jelek begini saya juga gemar menyimak fakta-fakta yang berserak di depan mata, yang kemudian saya kompilasi dengan pemahaman keagamaan yang saya miliki (yang mungkin masih sedikit), buku-buku yang saya baca, dan beberapa acara televisi yang saya tonton. Hingga akhirnya tangan saya menjadi gatal dan kemudian membuat tulisan ini.

Sebelumnya saya mohon maaf jika ada beberapa teman yang merasa menjadi objek dalam tulisan ini, apa boleh buat, saya hanya menulis apa yang saya temui. Namun tentu saja saya tak ada maksud menjelek-jelekkan atau mengkritik atau mencemooh atau apa pun yang bermakna negatif lainnya. Tulisan ini hanyalah hasil dari sebuah dialektika. Semoga maklum.

***

            Beberapa kali saya menemui beberapa teman yang pemahaman keislamannya bisa dibilang bagus, dan kebanyakan dari mereka sudah memiliki anak. Saya yang kelihatan cuek sebenarnya sedang menyaksikan apa yang sedang terjadi di depan mata saya. Beginilah pemandangan yang biasa terlihat oleh saya, ketika saya bertemu dengan teman-teman saya:

–          Anaknya memukul wajah bundanya

–          Anaknya berteriak-teriak ketika menginginkan sesuatu

–          Anaknya sering memerintah kedua orangtuanya dengan cara yang sangat tidak sopan

–          Bundanya memarahi anaknya yang tidak bisa dilarang

–          Bundanya membiarkan anaknya berlaku destruktif (menghancurkan mainan, dll), dan hanya bisa bilang, “Jangan, nanti rusak”.

–          Ayahnya hanya bisa bilang, “Anak gue mah nggak bisa dibilangin. Nakal banget.”

–          Dll.

Dari pemandangan seperti itu akhirnya saya jadi bingung, mengapa anak-anak mereka berlaku sama seperti anak-anak pada umumnya? Apakah pemahaman Islam yang mereka (orangtua) miliki hanya untuk kepuasan intelektual belaka, hanya untuk ibadah mahdah semata, hanya untuk keperluan mendirikan negara Islam saja, hanya untuk mempelajari mana bidah mana sunnah, hanya untuk mengangkat pedang, dan lain sebagainya, tapi untuk masalah mengurus anak digunakan cara yang serupa dengan kebanyakan orang? Mengapa demikian?

Kebanyakan yang saya lihat, mereka hanya memberikan anak-anaknya buku-buku “islami”, perkenalan tentang nabi-nabi, nama-nama malaikat, dan memberi tontonan dvd tentang kumpulan doa-doa, membacakan kisah-kisah “islami” sebelum tidur atau ketika sedang santai di sore hari. Hanya sebatas itu. Seolah-olah dengan begitu sang anak akan langsung menjadi anak yang saleh dan salehah, yang doanya tak akan pernah terputus sampai kapan pun. Namun di sisi lain, sang orangtua membesarkan anak-anaknya sama seperti orangtua-orangtua pada umumnya.

Setiap orangtua tentu menginginkan anaknya bahagia, termasuk saya nantinya, tentu saja. Namun sayangnya dengan alasan kasih sayang inilah akhirnya beberapa orangtua tanpa sadar telah membentuk karakter sang anak untuk berlaku “kurang ajar”.

Sebagai contoh sederhana: atas dasar kasih sayang, sang bunda sering tidak tega menyaksikan anaknya menangis meraung-raung tidak karuan. Padahal sang anak menangis lantaran hanya ingin mengambil mainan yang jaraknya tidak jauh dari dirinya. Akhirnya sang bunda mengambilkan mainan tersebut dan memberikan kepada anaknya. Anaknya senang, tertawa-tawa, dan kemudian mainan tersebut kembali terlempar, anak itu meraung-raung lagi, karena sayang sama anaknya, sang bunda mengambil lagi mainan tersebut dan memberikan kepada anaknya, dan begitu seterusnya. Padahal tindakan sang bunda tersebut telah membentuk karakter “bossy” pada sang anak. Alangkah asyiknya kalau sang bunda berkata, “Dul, kamu pasti bisa mengambil mainan itu. Ayo, jaraknya kan tidak jauh. Bunda percaya kok kalau kamu bisa.” Jika diperlakukan seperti itu, sang anak pasti jadi tambah percaya diri akan kemampuan dirinya. Kalau sang anak masih terus meraung-raung, diamkan saja, toh nanti tangisannya akan berhenti. Jadi orangtua itu kudu tega. Tentu saja tega dalam hal kebenaran. Sebab, kebanyakan orangtua tunduk pada tangisan anaknya. Sebab, sang anak tahu, dengan menangis hajatnya pasti langsung dipenuhi. Akhirnya sang anak menjadikan tangisannya sebagai senjata ampuh untuk menaklukkan kedua orangtuanya. Banyak juga contoh lainnya, yang atas dasar kasih sayang buta malah membuat sang anak kurang ajar atau malah memperbudak orangtuanya.

Ada juga beberapa orangtua yang terlanjur menelan mentah-mentah perkataan sang psikolog, “Jangan pernah berkata ‘JANGAN’ kepada anak!”. Akhirnya sang orangtua membiarkan saja anaknya berlaku destruktif. Merusak mainan, merusak isi rumah, merusak segalanya. Sang orangtua tersebut kebetulan adalah orangtua yang menganggap bahwa melarang adalah hal yang dilarang. Dilarang melarang! Akhirnya orangtua tersebut membiarkan saja anaknya berbuat sesuka hati. “Bebaskan saja, namanya juga anak-anak. Nanti kalau dilarang malah makin jadi.” Well. Padahal melarang itu tidak dilarang oleh agama. Hanya saja melaranglah secara keren dan elegan. Pernyataan “Jangan berkata JANGAN!” bukan berarti kita tidak boleh melarang sama sekali. Selaku orangtua kita harus mengarahkan sang anak agar berbuat baik. Jika sang anak berlaku destruktif, katakanlah kepadanya, “Dul, ini mobil-mobilan. Cara mainnya seperti ini. Dorong, tarik, dorong, tarik. Bukan dilempar ke muka ayah. Nanti kalau muka ayah bonyok bagaimana?” Yup. Siapa tahu saja sang anak memang belum tahu cara mainnya seperti apa. Selaku orangtua, kita jangan lantas membiarkannya atau malah memarahinya, tapi berilah arahan dengan cara yang asyik dan oke punya.

Apakah tulisan ini sudah membuat saya menjadi terkesan sok tua? Haha! Udahan ah.